Radarjombang.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang menyebut sejumlah wilayah di Kabupaten Jombang rawan menghadapi krisis air bersih selama musim kemarau tahun ini.
Meski belum ada laporan kejadian, analisis menunjukkan tiga kecamatan berisiko tinggi mengalami krisis air bersih. Yakni, Kecamatan Plandaan, Bareng, dan Kecamatan Kabuh.
”Status yang ditetapkan saat ini adalah siaga darurat, belum masuk ke tahap tanggap darurat. Karena sampai hari ini (kemarin) belum ada laporan kejadian yang masuk,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kalaksa BPBD Jombang Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, Kamis (31/7).
Status siaga darurat di tiga wilayah kecamatan tersebut, lanjut Wiku, berdasarkan analisa data kejadian kekeringan empat tahun terakhir. ”Yaitu sejak 2021 hingga 2024, serta hasil kajian risiko bencana,” tandasnya.
Potensi kekeringan di wilayah itu teridentifikasi menyebar di sejumlah desa. Antara lain Desa Banjaragung di Kecamatan Bareng; Desa Jiporapah, Desa Klitih, Kecamatan Plandaan; serta Desa Marmoyo dan Desa Manduro, Kecamatan Kabuh.
Wiku menegaskan yang dihadapi saat ini adalah potensi, bukan prediksi. ”Kalau sudah prediksi, maka kemungkinan besar kejadian akan terjadi. Kami lebih memilih menggunakan dasar potensi agar tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan,” imbuh dia.
Penetapan status siaga ini tidak hanya mencakup risiko kekeringan. Tetapi juga kebakaran hutan, lahan, hingga permukiman.
”Sebab, sepanjang 2024, BPBD Jombang mencatat sedikitnya ada 148 kasus kebakaran di berbagai sektor, termasuk area permukiman dan fasilitas umum,” imbuhnya.
Meski demikian, BPBD berharap dampak kekeringan dapat diminimalkan. Terutama setelah adanya intervensi program Pamsimas Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Jombang tahun lalu.
"Intervensi ini cukup efektif dalam menjaga ketersediaan air bersih di beberapa desa yang rawan krisis air bersih,” ujar Wiku.
Lebih lanjut, kondisi musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih bersahabat.
”Karena berdasarkan rilis BMKG, di Jombang sedang menghadapi kemarau basah. Artinya, meskipun kemarau, masih ada potensi hujan. Ini diharapkan bisa membantu menjaga debit dan cadangan air tanah di masyarakat,” tutur dia.
Kendati demikian, pihaknya mengimbau masyarakat tetap waspada dan ikut serta dalam upaya pencegahan, baik kekeringan maupun potensi kebakaran.
Warga juga diminta segera melapor jika terjadi kekurangan air bersih atau insiden kebakaran di wilayah masing-masing.
”Kalaupun benar-benar terjadi kekeringan dan kebakaran (utamanya hutan dan lahan), Pemkab Jombang sudah bersiap diri dengan mensiagakan personel, pralatan, dan koordinasi multipihak untuk penanganan darurat dalam bentuk pndistribusian air bersih, sarpras bagi masyarakat terdampak kekeringan,” kata Wiku. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto