Radarjombang.id - Mundurnya satu orang siswa dan satu guru Sekolah Rakyat di SKB Mojoagung jadi perhatian serius pemkab.
Bersama pihak sekolah, Dinas Sosial Jombang segera melakukan asesmen ulang, termasuk mempertimbangkan opsi mengisi mencari pengganti dengan siswa baru.
Kepala Sekolah Rakyat Andik Minarto menyampaikan, pihaknya segera melakukan asesmen pascapendekatan persuasif terhadap siswa Sekolah Rakyat yang mengundurkan diri belum membuahkan hasil.
”Jadi pendekatan kepada siswa sudah kita lakukan. Kita juga sudah koordnasi dengan dinsos untuk dilakukan asesmen ulang,” ujar dia ditemui, Selasa (29/7).
Ia menyebut, satu orang siswa yang mundur tersebut merupakan siswa jenjang SMA.
Ia menyebut, jika nantinya asesmen ulang juga tidak membuahkan hasil, maka kursi siswa yang kosong akan dicarikan pengganti.
”Jika tidak bersedia (kembali) maka akan dicarikan pengganti,” jelas dia.
Dijelaskan, satu siswa jenjang SMA tersebut dilaporkan sering menangis saat belajar di Sekolah Rakyat.
Beberapa kali, siswa perempuan tersebut enggan menyantap makanan yang disediakan. Padahal, teman-teman sekamar sudah berusaha menyemangati agar betah tinggal di SKB Mojoagung.
”Dia sering nangis ingin pulang. Terus kemudian, hari Sabtu kemarin ingin kembali ke rumah bersama orang tuanya,” beber dia.
Selain satu siswa, ia juga membenarkan ada satu guru yang mengundurkan diri dari Sekolah Rakyat.
Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tersebut, dilaporkan belum pernah masuk sejak Sekolah Rakyat resmi dibuka 14 Juli lalu.
”Kami belum tahu alasannya. Karena kita menghubungi beliau langsung mengundurkan diri,” jelas dia.
Dari total 19 guru di Sekolah Rakyat, hanya mapel PAI yang belum terisi. Meski demikian, ia menyebut saat ini materi PAI masih bisa ditangani wali asuh yang kebetulan menguasai PAI.
”Apalagi saat ini belum kita berikan materi pelajaran umum. Namun, lebih banyak ke matrikulasi dan peningkatan wawasan,” jelas dia.
Seperti terlihat, Selasa (29/7) pagi. Tampak 99 siswa di Sekolah Rakyat antusias mengikuti pengenalan wawasan dari anggota LVRI Jombang.
Para veteran terlihat bersemangat memberikan materi seputar wawasan kebangsaan, nasionalisme, serta penguatan karakter.
”Sementara ini kita fokus MPLS dan matrikulasi. Hari ini kita mengundang LVRI untuk penanaman wawasan kebangsaan bagi anak-anak,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Sekolah Rakyat di SKB Mojoagung resmi dimulai pada 14 Juli lalu.
Tahap awal, hanya menerima 100 orang siswa yang dibagi dalam empat rombongan belajar. Masing-masing jenjang SMP 2 rombel, dan SMA 2 rombel.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, Sekolah Rakyat menerapkan sistem asrama atau boarding school. Seluruh siswa tidak dibebani biaya alias gratis. Kebutuhan makan dan seragam semua dibiayai negara. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto