Radarjombang.id - Kegiatan penggantian karet pada Bendung Karet Menturus di Kecamatan Kudu yang rusak berdampak ke sektor pertanian. Pasalnya, pasokan air irigasi berkurang. Kondisi itu membuat sejumlah petani di sejumlah desa sementara membiarkan sawahnya nganggur.
”Sementara sudah tidak tanam lagi, diberakne nganggur,” kata Subari salah seorang petani Dusun Sidokarang, Desa Menturus, kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Dia baru saja memanen padi. Termasuk petani lainnya di wilayah setempat. Hanya saja untuk kali ini, tak langsung mengolah sawahnya karena pasokan air irigasi dari Sungai Brantas berkurang. ”Paling mulai tanam lagi itu September, karena kemarin disampaikan Agustus air irigasi sudah normal,” imbuh lelaki yang akrab disapa Cak Bari.
Baca Juga: Dua Pintu Air Bendung Karet Menturus Jombang Rusak Parah, Ini Dampaknya
Menurut dia, sudah ada opsi untuk menanam palawija. Hanya saja, untuk kebutuhan irigasi petani harus menggunakan pompa air untuk menyedot air dari sumber lain. Namun biaya operasional yang tinggi membuat solusi ini dinilai kurang efektif bagi sebagian besar petani. ”Pakai pompa itu mahal. Airnya juga cepat habis, tanahnya di sini itu cepat kering. Jadi ya lebih baik ditunda sampai perbaikan damnya selesai,” tutur dia.
Hal sama diungkapkan Abdul, petani lainnya. Sudah sejak sebulan terakhir atau dimulainya pengerjaan membuat pasokan air irigasi ikut tersendat. ”Sudah sebulan lebih air dari sungai (Sungai Brantas) tidak bisa mengalir. Karena pintu enam itu dibuka, airnya langsung lewat, nggak ada yang masuk ke saluran irigasi,” ujar Abdul di Bendung Karet Menturus.
Keterangan diterima, proses perbaikan berlangsung hingga Agustus nanti. Dampaknya selain di wilayah setempat juga di Desa Keboan, Kecamatan Ngusikan. ”Biasanya di sini habis panen padi, kadang ada yang padi lagi. Nggak ada petani tembakau,” kata Abdul.
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ngusikan Zuhrotullailis Sa’adah mengakui, aliran air dari Sungai Brantas ke irigasi sawah ikut terdampak. ”Ada yang sudah panen, ada juga yang belum. Jadi untuk sekarang belum terlalu terdampak karena padinya sudah hampir selesai,” ujarnya.
Namun, kondisi ini dikhawatirkan akan lebih terasa pada musim tanam berikutnya. Pasalnya, perbaikan karet dijadwal selesai Agustus nanti. Sehingga petani harus mengandalkan pompa atau diesel untuk pengairan sawah mereka.
”Biasanya tidak perlu pompa, air bisa mengalir. Tapi, nanti untuk tanam selanjutnya, mau tidak mau harus pakai pompa. Itu artinya ada biaya tambahan bagi petani,” jelas Zuhrotullailis.
Di Kecamatan Ngusikan hanya di Desa Keboan yang terdampak. Selebihnya di Kecamatan Kudu dan paling banyak di Kabupaten Mojokerto. Selama ini pengairan sawah di wilayah itu berasal dari Sungai Brantas yakni dari Bendung Karet Menturus. Luasan di Kecamatan Kudu sekira 70 hektare. ”Sebagian desa lainnya di Ngusikan mendapatkan pasokan air dari aliran Kali Marmoyo,” kata Zuhrotullailis.
Sebelumnya, perbaikan dua pintu air di Bendung Karet Menturus di Kecamatan Kudu hingga kini masih berjalan. Petugas harus membangun kisdam untuk akses penggantian karet dua pintu air yang sudah bertahun-tahun rusak berat. Yakni pintu air nomor tiga dan empat.
Bendung Karet Menturus punya peran vital dalam mendistribusikan air dari Sungai Brantas untuk irigasi sawah. Cakupan wilayahnya lebih banyak di Kabupaten Mojokerto ketimbang Jombang. Dari sekitar baku sawah hampir 3.000 hektare, Jombang hanya 450 hektare, sisanya di Kabupaten Mojokerto. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto