Radarjombang.id - Saat banyak petani semringah lantaran pemerintah menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram, sejumlah petani di Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben justru merugi besar.
Pasalnya, tanaman padi mereka rusak lantaran tergenang banjir dari luapan Afvoer (saluran buang) Watudakon.
Akibatnya, sekitar 30 hektare tanaman padi di wilayah ini gagal panen.
Pantauan di lokasi, sejumlah petak sawah sawah di Dusun Ingaskerep, Desa Kedungmlati tampak masih ditumbuhi tanaman padi.
Kondisi tanaman tampak rusak, sementara di areal sawah masih digenangi air.
”Sawahnya sudah tidak digarap lagi, setelah kemarin kebanjiran,” kata Sumadi salah seorang petani.
Menurutnya, areal sawah di titik tersebut kerap jadi langganan banjir. Bakan petani sudah melakukan tanam ulang berkali-kali.
”Rata-rata petani sudah tanam lima kali. Banjir terakhir membuat mereka menyerah dan membiarkan sawahnya daripara rugi semakin besar,” imbuh dia.
Sementara itu, Kades Kedungmlati Mariyati mengakui, petani sengaja membiarkan tanamannya tak terawat karena terus-terusan kebanjiran.
”Sudah lima kali tanam lalu kebanjiran, setelah itu dibiarkan nggak ditanami lagi,” kata Mariyati.
Berdasar pengamatannya, di desa setempat sekira 30 hektare sawah yang kini tak panen. Lokasinya menyebar di tiga dusun.
”Selain di Ingaskerep, juga di sebalah utara jalan tol di Dusun Kedungpapar dan Dusun Kedungbendo itu istilahnya becer, airnya sampai sekarang masih ngecembeng, jadi tidak bisa ditanami,” imbuh dia.
Menurut dia, karen problem tahunan rata-rata petani setempat sudah menyewakan lahannya
. ”Jadi sekarang di sana itu sudah disewakan, tetapi kasihan penggarapnya, nggak pernah panen,” ujar Mariyati.
Dibiarkannya lahan tersebut karena petani terkendala biaya operasional imbas banjir.
”Tanamnya ada yang sampai lima kali, sedangkan waktu itu cari benih susah harganya juga mahal antara Rp 7.000 sampai Rp 8.000 satu untingnya,” kata Mariyati.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Jombang M Rony mengakui, ada beberapa lokasi sawah mengalami gagal panen.
Salah satu faktornya berkaitan saluran pembuang.
”Jadi kata kunci dan faktor utama di irigasi. Ini harus dipetakan, kalau tidak ada saluran pembuang akan menjadi masalah,” kata Rony.
Menurut Rony, kondisi itu sama persis di Kecamatan Gudo. Setelah dilakukan pemetaan, saluran butuh dilakukan normalisasi.
”Di daerah Gudo kemarin ternyata tertutup bangunan,” imbuh dia. Karena itu, pemetaan untuk saluran butuh dilakukan. ”Bisa jadi drainase tersier yang bermasalah, itu bisa ditangani desa.
Atau sekunder ikut pemerintah daerah. Karena, kemungkinan di sana sudah ada saluran tetapi tidak fungsi. Entah tertutup atau butuh normalisasi,” kata Rony. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto