Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Masih Ada Gabah Petani Dibeli Di Bawah HPP, Komisi B DPRD Jombang Soroti Penyerapan Gabah Bulog

Azmy endiyana Zuhri • Minggu, 6 April 2025 | 13:00 WIB
Ilustrasi gabah petani yang sedang diangkut menuju gudang dari sawah
Ilustrasi gabah petani yang sedang diangkut menuju gudang dari sawah

RadarJombang.id - Komisi B DPRD Jombang merepons masih adanya keluhan petani yang gabah hasil panennya dibeli di bawah HPP.

Menanggapi harga gabah yang masih di bawah HPP terutama di wilayah utara Brantas, Komisi B menyoroti kinerja Bulog dan caranya melakukan penyerapan.

”Kami mendapat laporan dari petani harga gabah masih di bawah HPP, terutama di Kecamatan Kabuh yang saat ini mulai panen,” kata Wakil Ketua Komisi B DPRD Jombang Ama Siswanto saat dikonfirmasi kemarin.

Dirinya mengungkapkan, ini dikarenakan Bulog masih belum optimal untuk menyerap gabah petani.

”Karena serapan Bulog sendiri juga dibatasi. Sehingga gabah petani masih banyak dibeli tengkulak dengan harga di bawah HPP,” terangnya.

Politikus PDI Perjuangan ini mendorong pemkab melalui dinas pertanian juga harus mencari solusi untuk mensehjaterakan petani dengan harga gabah yang sesuai.

”Seperti ada wacana pemkab untuk pengadaan beras ASN. Pemkab harus segera melakukan kajian, apakah itu benar-benar efektif atau seperti apa. Kalau benar efektif harus segera dijalankan,” tegasnya.

Sebelumnya, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Kabuh, Fatkhur Rohman, mengakui, wilayah setempat saat ini sudah mulai panen padi.

”Sekarang sudah hampir 25 persen yang panen, sisanya atau puncaknya setelah Lebaran,’’ kata Fatkhur.

Mulai dari wilayah timur di Desa Kauman, Genenganjasem, Munungkerep, Sumbergondang, hingga Karangpakis, dan Desa Banjardowo. 

’’Di Desa Sumberingin ini malah lebih dulu panennya, lalu di Pengampon sekarang hampir selesai,’’ jelasnya.

Disinggung soal harga, Fatkhur tetap berpedoman pada HPP yang sudah ditetapkan.

’’Yang kami kawal ini program serap gabah bersama Bulog. Harganya tetap, Rp 6.500 per kilogram gabah bersih kering sawah,” tuturnya.

Menurutnya, petani di Kecamatan Kabuh jarang menjual gabah kering panen (GKP). Biasanya dibawa pulang dan dikeringkan terlebih dahulu.

’’Karena dalam setahun sekali panen padi, sehingga gabahnya dibawa pulang dan disimpan,’’ ujarnya.

Idealnya saat ini, harga harus sesuai yang ditetapkan pemerintah. Meski tengkulak yang membeli gabah ke petani.

’’Idealnya harganya sesuai dengan yang diambil Bulog Rp 6.500 per kilogram. Keinginan pemerintah begitu, tetapi tengkulak ini kadang sudah orang ke berapa. Karena mereka ini akan disetor lagi, sehingga harganya di tingkatan petani beda,’’ bebernya.

Petani bisa melakukan koordinasi dengan masing-masing kelompok tani (poktan) atau gabungan poktan (gapoktan), agar gabah mereka diserap Bulog.

Tentunya dengan harga yang sudah sesuai HPP.

’’Misalnya ingin gabahnya terserap Bulog dengan harga sesuai pemerintah, caranya harus mendaftar program serap gabah. Petani bisa koordinasi ke masing-masing poktan biar nanti ditindaklanjuti,’’ kata Fatkhur. (yan/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#di bawah #komisi b #Serapan #petani #Soroti #hpp #gabah #bulog #dibeli