RadarJombang.id – Upaya Pemkab Jombang melakukan penataan pedagang Pasar Perak hingga kini masih jalan di tempat.
Pasalnya, kondisi kios pedagang banyak yang tutup. Stiker segel pemkab yang belum setahun ditempel kini mulai rusak dan lepas.
Sementara itu, pedagang masih bertahan berjualan di emperan jalan di belakang pasar.
Pantauan di lokasi Kamis (27/2) siang, deretan kios-kios dengan pintu rolling door yang berada di lantai 2 Pasar Perak terlihat tutup.
Beberapa pedagang yang beraktivitas rata-rata menempati lapak semi permanen di luar kios yang dibangun pemkab.
Stiker segel yang ditempel Pemkab Jombang akhir Juni 2024 lalu, di setiap kios yang ditinggal pedagang kondisinya juga banyak yang rusak.
Begitu juga pita kuning-hitam yang dipasang petugas sebagian juga banyak yang rontok.
Lebih dari 20 titik kondisinya rusak. Di antaranya bagian tengah stiker sobek hingga tulisan yang tertera tak bisa terbaca.
Dikonfirmasi terkait itu, Kepala UPT Pasar Daerah dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Disdagrin Jombang Dewi Rachmawanti Bestari tak menampik, hampir semua stiker kondisinya banyak yang rusak.
”Iya, banyak yang rusak. Entah diprotoli atau bagaimana, kondisi di lapangan begitu,” kata Dewi.
Sebagai upaya, pihaknya sudah berencana menempel ulang stiker segel. Hanya saja, untuk sementara ini belum bisa dilakukan karena keterbatasan anggaran.
”Jadi rencana kami akan ditempel stiker lagi sekalian digembok, ternyata anggarannya belum ada. Rencana kami ajukan di P-APBD 2025 (Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah),” imbuh dia.
Sebab, hitungannya membutuhkan ratusan buah stiker segel. Begitu juga dengan kebutuhan gembok karena yang disegel tak hanya kios, di antaranya los gledek juga ada yang disegel.
”Butuhnya itu ternyata banyak sampai 300-an (stiker) belum gemboknya, makanya sekarang belum terlaksana,” tutur Dewi.
Upaya menarik kunci kios dari pedagang, menurut Dewi, agaknya susah dilakukan. Salah satunya, saat ini pedagang yang sebelumnya menempati kios itu sudah tak terdeteksi lagi berjualan di mana.
”Makanya kami inisiatif itu digembok sendiri dari pemerintah daerah,” kata Dewi.
Untuk diketahui, kondisi sejumlah pasar daerah memprihatinkan. Seperti yang terjadi di Pasar Perak, usai bangunan pasar direhab, banyak pedagang yang enggan menempati lapaknya.
Para pedagang lebih memilih berjualan di pinggir jalan. Berbagai upaya sudah dilakukan pemkab untuk mendorong pedagang agar segera menempati lapaknya, namun usaha tersebut belum membuahkan hasil maksimal.
Sebagai tindak lanjut, pemkab mengambil tindakan tegas dengan menyegel deretan lapak dan kios yang ditinggalkan pedagang
Data yang dihimpun, Pasar Perak Jombang berdiri di atas lahan seluas 5.380 m2 dengan jumlah sekitar 609 orang pedagang.
Pembangunan Pasar Perak mengalami proses dua tahapan. Tahap satu, pembangunannya dimulai pada 2021 dengan menyerap anggaran sekitar Rp 6.631.705.000 dan proses pembangunan tahap kedua selesai pada 2022 dengan menyerap anggaran mencapai Rp 4.135.076.000.
Peresmian bangunan pasar dilakukan oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa pada April 2023.
Bangunan pasar yang menelan anggaran mencapai Rp 10 miliar direncanakan menjadi pasar percontohan yang menerapkan smart economy atau ekonomi cerdas.
Dalam peresmian itu, Gubernur Khofifah juga me-launching sistem pembayaran retribusi elektronik dan terintegrasi.
Baca Juga: Tambah Akses Keluar-Masuk Pasar Perak, Pemkab Jombang Bongkar Tembok Samping Pasar
Namun dalam praktiknya, alih-alih jadi pasar percontohan, justru kondisi pasar memprihatinkan.
para pedagang enggan menempati lapak dan lebih memilih berjualan di pinggiran jalan di sekitar pasar.
Bangunan Pasar Perak terdiri dari dua lantai. Untuk lantai dasar terdiri 13 unit, 84 kios unit, lesehan 12 los; gledek 160 unit; kamar mandi 1 unit, dan ipal 1 unit.
Sedangkan di lantai dua terdiri dari kantor pengelola pasar, 152 unit kios, kamar mandi 2 unit, lesehan 5 los.
Komoditas yang dijual di lantai dasar adalah tempat pedagang yang menjual bermacam komoditas basah seperti sayuran, daging, ikan, buah, olahan kedelai, telur hingga pedagang bunga.
Sedangkan di lantai dua menjual bermacam komoditas kering seperti pakaian, aksesoris, perhiasan, tas, buku, hingga alat pertanian dengan mengusung konsep smart economy. (fid/naz)
Editor : Achmad RW