RadarJombang.id – Rencana Dinas P dan K Jombang menggelar kesenian jaranan dor massal untuk pemecahan Rekor MURI akhirnya dibatalkan.
Pemkab Jombang membatalkan pemecahan Rekor MURI jaranan dor itu karena beberapa alasan mendasar.
Selain membebani orang tua, banyak satuan lembaga pendidikan yang mengaku keberatan dengan pemecahan rekor MURI jaranan dor itu.
”Muri jaranan dor itu dibatalkan atau ditunda, yang pasti tidak jadi dilaksanakan Oktober ini,” kata Sekdakab Jombang Agus Purnomo, Senin (23/9).
Agus mengatakan, ia telah meminta Dinas Pendidikan dan kebudayaan Jombang untuk melakukan kajian lebih lanjut terkait program tersebut.
Kajian ini dilakukan usai beredarnya kasus video mesum yang diduga dilakukan oknum pejabat dinas P dan K di ruang kerja.
”Kami minta bu Wor (Plt Kepala Dinas P dan K Jombang, Red) untuk melakukan kajian lebih lanjut terkait Muri jaranan dor,” katanya.
Hasil dari kajian tersebut, Agus mengatakan, banyak satuan pendidikan yang masih keberatan atas rencana program jaranan dor massal melibatkan sekitar 50 ribu siswa jika tetap dilaksanakan.
”Informasinya, ternyata satuan pendidikan masih banyak yang keberatan, informasi detailnya bisa langsung ke dinas P dan K,” jelasnya.
Salah satu kepala SMP negeri di Jombang mengaku mendukung pelestarian kesenian jaranan dor di Jombang.
Namun demikian, pihaknya tidak setuju jika dalam pelaksanaannya harus dilakukan dengan menggelar kesenian jaranan dor massal demi target penghargaan MURI.
”Kami tetap melakukan persiapan, hanya saja, jika diberikan pilihan dilaksanakan atau tidak, kami berharap tidak untuk dijadikan Muri,” kata kasek SMP yang meminta namanya tidak disebut.
Senada, salah satu kepala SD negeri di Jombang mengatakan, di lapangan kendala untuk pelaksanaan jaranan dor massal masih sangat banyak.
Meski telah diperbolehkan memakai media jaranan seadanya atau karya sendiri, masih banyak orang tua yang mengupayakan untuk mendapatkan jaranan dengan cara membeli.
”Namanya anak-anak ya, meski dari atas boleh pakai sapu misalnya kepepet, tapi kondisi psikologis anak kan berbeda-beda,” jelasnya.
Meski telah melakukan persiapan panjang, ia mendukung jika rencana menggelar penampilan kesenian jaranan dor massal untuk memecahkan Muri dibatalkan.
”Mending tidak usah lah, kebutuhannya banyak sekali itu, meski bisa pakai BOS sekolah kami sekolah kecil, lebih baik dimanfaatkan untuk kegiatan lain,” pungkasnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW