RadarJombang.id - Percepatan penurunan stunting merupakan salah satu dari 10 tugas prioritas yang diberikan kepada Pj Bupati Jombang, Sugiat.
Sejak awal kepemimpinan setelah ditugaskan Presiden Joko Widodo melalui Kemendagri, pengentasan stunting memang jadi salah satu tugas yang harus dituntaskannya.
Sugiat mengatakan, data dari Dinkes Jombang, angka prevalensi stunting pada Februari 2024 mencapai 5,88 persen.
Pada 2023 mencapai 6,29 persen. Serta pada 2018 pernah mencapai 22.91 persen.
’’Kenapa stunting terus kita tangani secara serius? Sebab kita akan menuju Indonesia emas 2045," ungkapnya.
Sugiat menyebut, untuk bisa menuju Indonesia emas, butuh persiapan yang sangat rigid dan baik dari sekarang.
"Maka mulai hari ini harus kita canangkan bahwa menuju Indonesia emas maka stunting harus kita perangi dan itu membutuhkan peran semua unsur termasuk SOTH,’’ kata Sugiat.
Prevalensi stunting di Jombang berada pada tingkat tiga terbawah di tahun 2024 ini.
Setelah ditelaah lebih lanjut, salah satu penyebabnya, perilaku dan mindset warga yang kurang peduli untuk membawa anaknya ke Posyandu sehingga tidak terdata.
Angka stunting tidak hanya selesai dengan tambahan gizi. Banyak masalahnya, termasuk masalah pola asuh.
"Balita yang stunting ini bukan hanya keluarga menengah ke bawah ternyata, menengah ke atas pun ada yang stunting,’’ terangnya.
Baca Juga: 6 Nama Diusulkan, Penunjukan Pj Kades untuk 2 Jabatan Kades Kosong di Jombang Tunggu Pj Bupati
Pj bupati yang memiliki background psikologi terapan ini menekankan pentingnya merubah mindset para orang tua.
Pihaknya mengarahkan agar orang tua lebih memperhatikan makanan buah hatinya.
Tidak sekadar bentuk materi, tapi juga merubah perilaku.
"Ini peran orang tua semua. Kemarin sudah diajarkan parenting untuk mengatasi stunting dan lain sebagainya,’’ paparnya. (wen/jif/riz)
Editor : Achmad RW