Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

7 Rekor MURI di Jombang Disebut Sudah Habiskan Anggaran Rp 700 juta, Pengamat: Terus Dampaknya Apa?

Wenny Rosalina • Kamis, 23 Mei 2024 | 14:20 WIB
Ilustrasi saat pemkab Jombang melakukan pemecahan rekor MURI Tari Boletan
Ilustrasi saat pemkab Jombang melakukan pemecahan rekor MURI Tari Boletan

RadarJombang.id – Tiga tahun terakhir, Pemkab Jombang sudah memecahkan tujuh rekor MURI.

Tahun ini, Pemkab Jombang juga meminta puluhan ribu siswa SD dan SMP membuat peraga jaranan untuk memecahkan rekor MURI Oktober nanti.

Sejumlah pihak menilai, mengejar rekor MURI hanya menghambur-hamburkan anggaran tanpa dampak dan tindak lanjut yang jelas.

Terlebih, anggaran untuk satu kali pemecahan rekor MURI juga terbilang tak sedikit.

’’Setiap MURI minimal Rp 100 juta dikeluarkan,’’ ungkap sumber internal Pemkab Jombang, kemarin.

Selama tiga tahun terakhir, sudah ada 7 rekor MURI dipecahkan.

Masing-masing adalah:

1. Oktober 2021, Rekor MURI pemrakarsa dan penyelenggaraan tingkeban masal di 22 tempat secara virtual diikuti 660 ibu hamil di 21 kecamatan.

2. Oktober 2022, Rekor MURI tari remo boletan, 41.112 siswa mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, guru dan SDN terbanyak.

3. Juli 2023, Rekor MURI Seni rodat ISHARI, diikuti 37.816 siswa.

4. Juli 2023, Rekor MURI Salawat tibbil qulub diikuti 100.113 peserta.

5. Juli 2023, Rekor MURI Pelajar terbanyak mengenakan busana sarung dan songkok, 37.816 siswa.

6. September 2023, MURI sajian sego kikil (gokil) 15.000 porsi,

7. September 2023, Rekor MURI tumpeng lele setinggi 4,2 meter dengan total 4.000 ekor lele.

Menurutnya, dari tujuh MURI yang telah dipecahkan itu, tak satupun ada tindak lanjutnya usai kegiatan selesai.

Sementara itu, Akhmad Zainuddin, pengamat pendidikan Jombang mengatakan, Jombang sudah mulai harus mengurangi kegiatan-kegiatan yang sifatnya seremonial.

Menurutnya, kegiatan memecahkan rekor MURI tidak memiliki banyak manfaat yang dirasakan banyak orang.

’’Dari rekor MURI yang sudah dilaksanakan, sekarang apa yang bisa dirasakan? Apakah semua siswa sekarang sudah bisa tari remo boletan? Lalu bagaimana kabar sampur yang dibeli semua siswa saat itu sekarang? Apakah dipakai lagi untuk menari, kan tidak,’’ ungkapnya.

Menurutnya, MURI hanya dipakai untuk gebyar sehari. Besarnya anggaran yang dikeluarkan tidak setimpal dengan manfaat yang didapatkan.

’’Jika alasannya melestarikan budaya, masih banyak cara yang lain, tidak hanya seremonial seperti yang sudah-sudah,’’ jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Senen, mengatakan, MURI dilakukan sebagai upaya Pemkab Jombang untuk menyelamatkan warisan budaya tak benda khas Jombang.

’’Tari remo boletan, itu khas Jombang. Kita harus menyelamatkan itu, sebagai warisan budaya tak benda, yang hanya ada di Jombang,’’ urainya.

Begitu juga rencana MURI jaranan dor yang sekarang sedang disiapkan. Menurutnya, jaranan dor adalah kesenian khas Jombang, sehingga harus dilestarikan. (wen/jif/riz)

 

Editor : Achmad RW
#Jombang #Rekor MURI #Tak jelas