Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Setelah Dievaluasi, Rekor MURI Jaranan Dor di Jombang Tetap Dilanjutkan Asalkan...

Wenny Rosalina • Jumat, 3 Mei 2024 | 13:10 WIB
Ilustrasi kesenian jaranan dor. Pemkab Jombang kembali menyiapkan ribuan siswa di Jombang pecahkan rekor MURI lewat Jaranan Dor tahun ini
Ilustrasi kesenian jaranan dor. Pemkab Jombang kembali menyiapkan ribuan siswa di Jombang pecahkan rekor MURI lewat Jaranan Dor tahun ini

RadarJombang.id – Pj Bupati Jombang Sugiat mengumumkan hasil evaluasi internal perihal pelaksanaan Rekor MURI Jaranan Dor di Jombang.

Hasil evaluasi menyebutkan, upaya pemecahan Rekor MURI Jaranan Dor di Jombang akan tetap dilanjutkan.

Namun, dalam pelaksanaannya, pecah Rekor MURI Jaranan Dor itu akan ada sejumlah catatan khusus.

”Hari ini (kemarin) kebetulan ada guru, kepala sekolah, saya sampaikan jika Rekor MURI jaranan dor tidak boleh memberatkan masyarakat,” ucap Sugiat, setelah mengikuti upacara Hardiknas di lapangan Pemkab Jombang, kemarin (2/5).

Menurutnya, Rekor MURI jaranan dor ini, adalah salah satu program Pemkab Jombang untuk pelestarian budaya.

”Itu saya sangat setuju, tapi catatannya jangan sampai memberatkan masyarakat, wali murid, juga sekolah,” tegasnya.

Setelah mendapatkan banyak keluhan tentang rencana pecah rekor MURI Jaranan Dor ini, pihaknya kemudian memanggil Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Jombang.

Dari hasil evaluasi itu diputuskan jika MURI jaran dor tetap berlanjut, dengan catatan properti yang digunakan murni karya siswa dari bahan daur ulang.

”Dari kardus atau apa gitu, ditata yang rapi dan bagus,” sebut Sugiat.

Ia menyebut, konsep itu memang direncanakan Disdikbud Jombang.

Hanya saja, kondisi di lapangan tidak sesuai dengan konsep awal.

Sehingga akhirnya masyarakat berbondong-bondong membeli jaranan.

”Hingga terjadi hukum pasar, banyak permintaan pasti harga naik. Dari harga Rp 20 ribu menjadi Rp 40 ribu, kami bukan bermaksud mematikan usaha perajin jaranan, tapi kami juga tidak ingin memberatkan masyarakat,” tegasnya.

Sebagai motivasi, ia juga meminta Disdikbud Jombang untuk memberikan hadiah kepada siswa atau sekolah dengan karya terbaik.

Apresiasi ini untuk memotivasi atas jaranan daur ulang yang sudah dilakukan.

”Teknisnya bagaimana terserah dinas terkait, yang jelas membuat jaranan sendiri dan dinilai untuk memberikan motivasi dan sekaligus bentuk implementasi kurikulum merdeka,” tegasnya.

Sementara itu, Senen Kepala Dinas P dan K Jombang mengatakan, rteknis penilaian bakal dilakukan dari tingkat sekolah.

Sehingga nanti dipilih kategori terbaik tingkat SD dan SMP.

”Ya nanti ada kategori SD dan SMP kita lombakan, dan sekali lagi jaranan yang dipakai bikin sendiri, karya sendiri sehingga tidak perlu beli,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, langkah pemkab Jombang memburu Rekor MURI Jaranan Dor banyak dikeluhkan dan menuai sorotan.

Sejumlah wali murid dan warga sekolah, terang-terangan mengaku keberatan dengan kebijakan itu.

Banyak wali murid mengeluhkan keberatan karena harus mengeluarkan biaya banyak, mereka juga kesulitan berburu properti jaranan bahkan sampai ke luar kota.

Sementara sejumlah sekolah, juga mengaku kegiatan pecah Rekor MURI Jaranan Dor itu mengganggu KBM siswa dan dilakukan sepihak tanpa berkoordinasi dengan guru dan sekolah.

Sejumlah pengamat dan praktisi pendidikan, juga menyayangkan kegiatan pecah Rekor MURI Jaranan Dor itu.

Menurut mereka, kebijakan itu terkesan hanya kebijakan tanpa efektivitas dan dilakukan untuk politik elektoral saja. (wen/bin/riz)

Editor : Achmad RW
#pj bupati #Jombang #Rekor MURI #evaluasi #jaranan dor