RadarJombang.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang bersiap memecahkan rekor museum rekor dunia Indonesia (MURI).
Kali ini, rekor MURI yang berupaya didapat Pemkab Jombang adalah melalui kesenian jaranan dor.
Ribuan siswa di Jombang, kini tengah digenjot latihan dua kali seminggu sejak sekarang demi raihan rekor MURI ini.
’’Pelaksanaannya Oktober, melibatkan siswa SD dan SMP,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Senen.
Sekolah diminta melakukan persiapan sejak guru seni budaya mengikuti workshop Maret lalu.
’’Setelah workshop sudah mulai bisa latihan, video tutorial juga sudah dishare,’’ ungkapnya.
Siswa harus menguasai tari jaranan dor. Juga membuat kuda lumping dengan kardus bekas.
’’Properti sederhana, anak-anak bisa buat sendiri sebagai prakarya. Sudah diberi tutorialnya juga, tidak perlu rias, menggunakan baju olahraga atau seragam sekolah,’’ terangnya.
Mayoritas sekolah menyiapkan siswanya dengan latihan dua kali seminggu.
’’Kalau ingin cepat bisa, latihan 3-4 kali seminggu. Saya yang sedang-sedang saja, latihan dua kali seminggu,’’ kata Inni Amami, guru seni budaya SMPN 3 Jombang.
Siswa diajari latihan tari jaranan dor yang telah dicontohkan dalam workshop.
Baca Juga: 100.113 Pelajar dan Warga di Jombang Sukses Pecahkan Tiga Rekor MURI
Latihan dilakukan ketika ada jam kosong atau pulang sekolah.
Intensitas latihan biasanya bertambah ketika mendekati hari H.
’’Biasanya di jam pelajaran pagi 07.30-09.00 WIB jika mendekati hari H,’’ ungkap Inni.
Siswa juga diharuskan membuat jaranan menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah.
Bisa kardus, triplek, atau anyaman bambu. Model dan motif juga dicontohkan melalui workshop.
’’Kalau siswa punya motif sendiri juga tidak apa-apa,’’ jelasnya.
Belum ada ketentuan, berapa siswa yang diwajibkan ikut untuk memecahkan MURI ini.
Dia menyiapkan dua angkatan, yang sekarang duduk di kelas 7 dan kelas 8.
Terkait kostum hingga riasan wajah, dia belum menerima arahan.
Berkaca pada pemecahan rekor sebelumnya, kostum menggunakan pakaian dengan warna senada, ditambah dengan udeng atau aksesoris lain.
’’Di tari jaranan dor sebenarnya ada riasannya. Tapi karena ini MURI, mungkin bisa rias tipis-tipis pakai bedak dan lipstik yang penting tidak pucat. Tapi biasanya anak-anak tidak suka sesederhana itu,’’ urainya.
Sementara SMPN 1 Tembelang, sudah melakukan persiapan dengan melatih siswa yang bergabung di ekstrakurikuler tari.
Baca Juga: Semarak HUT Ke-61, Fun Walk Bank Jatim Pecahkan Rekor MURI
Siswa tersebut nantinya akan jadi tutor bagi siswa-siswi yang lain.
’’Kalau harus menghadirkan pelatih tari akan mengurangi waktu belajar. Juga ada honor yang harus diberikan,’’ kata Galuh Ardi Susilo, guru seni budaya SMPN 1 Tembelang sekaligus ketua musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) Seni Budaya Kabupaten Jombang.
Hingga kemarin, latihan masih dilakukan seminggu sekali sesuai jadwal ekstrakurikuler.
Jaranan dibuat sendiri dari kardus bekas kemudian diwarnai dengan cat. (wen/jif/riz)
Editor : Achmad RW