JOMBANG – Angka pengangguran terbuka di Kabupaten Jombang masih cukup tinggi.
Terhitung, per Desember 2022, masih ada 36.645 warga di Kabupaten Jombang tercatat masih jadi pengangguran.
Upaya penanganan kasus pengangguran salah satunya terkendala anggaran terbatas.
”Pengangguran masih di angka lebih dari 36 ribu, yaitu 5,45 persen dari seluruh angkatan kerja,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Jombang Priadi kepada Jawa Pos Radar Jombang (6/10).
Angkatan kerja di Kabupaten Jombang ada 66.798 orang. Sebanyak 633.153 orang sudah bekerja, dan sebanyak 36.645 orang masih menganggur.
Dari jumlah itu, sebanyak 15.673 orang di antaranya merupakan laki-laki.
”Angka pengangguran terbuka di Jombang setiap tahun fluktuatif,” kata Priadi.
Berturut-turut sejak tahun 2017 ada 34.151 orang menganggur, 2018 turun menjadi 31.299 orang, selanjutnya pada 2019 turun lagi menjadi 30.286 orang.
Tahun 2020 angka pengangguran meningkat tajam menjadi 52.169 orang, 2021 menurun lagi menjadi 50.063 orang, dan 2022 menurun lagi menjadi 36.645 orang.
”Belum ada rilis terbaru, jadi data yang kami pegang sampai saat ini baru sampai tahun 2022,” ungkapnya.
Penanganan yang dilakukan juga belum maksimal.
Pada P-APBD 2023, hanya dianggarkan Rp 215 juta untuk memberikan pelatihan kepada penduduk usia kerja yang masih menganggur.
Sayangnya, dari 36 ribu yang masih menganggur itu, anggaran itu hanya cukup untuk 56 orang saja.
”Karena keterbatasan anggaran di P-APBD. Ada program pelatihan, tapi belum sebanding dengan sasarannya,” jelas Priadi.
Pelatihan yang diberikan yaitu kopi barista dan menjahit sepatu untuk 56 orang di akhir tahun ini. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW