”Hari ini kami menerima kunjungan kunker dari DPRD Kabupaten Pemalang. Poin yang dibahas mulai dari tata kota, terutama menyangkut pengelolaan sampah,” terang Anggota Komisi B DPRD Jombang Subaidi Muchtar, kemarin.
Dijelaskan Subaidi, dalam pertemuan itu, pihaknya banyak memaparkan terkait tata kelola sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banjardowo. ”Termasuk alur dari tingkat rumah tangga, pemilahan, hingga sampai di tempat pembuangan akhir,” jelasnya.
Alur yang dimaksud, lanjut politikus PKB itu, meliputi sampah dari rumah kemudian dibawa menuju tempat pembuangan sementara (TPS). Di lokasi ini, dilakukan pemisahan antara sampah organik serta unorganik. ”Usai menjalani pemilahan, kemudian armada pengangkut membawanya ke TPA Banjardowo. Sebagaimana diketahui bersama, mesin pengolahan sendiri hasil dari kerja sama dengan Pemerintah Jerman,” lanjutnya.
Diakui Subaidi, fakta jika pengolahan sampah dapat menghasilkan pupuk memantik kekaguman dari rombongan kunker DPRD Kabupaten Pemalang. ”Usai kami berikan paparan, rombongan dari DPRD Kabupaten Pemalang sangat terkesan. Sebab hasil dari pengolahan yang mengaplikasi teknologis dari Jerman, dapat menghasilkan pupuk,” ujarnya.
Selain itu, TPA Banjardowo memiliki luas lahan mencapai 10 hektare. ”Lahan yang disiapkan untuk TPA Banjardowo mencapai 10 hektare. Dan dengan penerapan teknologi dari Jerman, saat ini ditetapkan sebagai TPA terbaik di Asia Tenggara,” tegasnya.
Sekretaris Komisi B DPRD Kabupaten Pemalang Solichin mengakui jika kunker ke Jombang membuahkan ilmu yang sangat luar biasa. Selain tata kota yang bersih dan bebas dari tumpukan sampah, totalitas pemkab setempat dalam menyediakan lahan untuk TPA dengan teknologi Jerman sangat patut untuk diaplikasikan. ”Hasil kunker harus kami akui sangat luar biasa. Selain terbukti tata kelola yang sangat bersih dari penampakan tumpukan sampah, sistem pengolahan dengan teknologi Jerman diberikan lahan yang sangat luas,” sebut politikus PKS itu.
Kondisi tadi sudah tentu sangat jauh berbeda apabila dibandingkan dengan Kabupaten Pemalang. Mulai dari tidak tersedianya lahan, hingga penerapan teknologi. ”Selama ini di Kabupaten Pemalang sampah menjadi persoalan yang sangat besar. Penanganan yang selama ini diterapkan baru sebatas penumpukan kemudian dibakar,” bebernya.
Ke depan, pihaknya bakal melakukan koordinasi dengan Pemkab Pemalang untuk meminta lahan yang nantinya bakal dijadikan TPA terpusat seperti di Jombang. ”Ke depan kami bakal meminta kepada Pemkab Pemalang untuk menyediakan lokasi yang nantinya bakal dijadikan TPA. Kami memang ada sejumlah pandangan, tinggal nantinya mana yang bakal dipilih,” tandas Solichin. (yan/naz/riz) Editor : Achmad RW