Seperti terpantau kemarin (14/3), tanaman jagung dari bibit bantuan yang ditanam petani tidak bisa tumbuh subur. Tinggi tanaman juga tidak normal, hanya setinggi 1 meter. Berbeda dengan tanaman normal yang bisa 2 meter. Biji jagungnya terlihat tak sehat dan rusak. Bahkan dalam satu bonggol, banyak biji yang bogang (tak terisi penuh, Red).
Menurut Sukamad salah satu petani, tanaman jagung miliknya saat ini berusia 70 hari. Setelah dianalisa, tinggi tanaman hanya 1 meter. ”Kalau usia seperti ini biasanya ketinggian tanaman jagung bisa mencapai 2 meter,” ungkapnya.
Sejak kali pertama mendapat bantuan bibit akhir 2022 lalu, dia sendiri kurang sreg. Bantuan bibit jagung didapatkan dari kelompok tani (poktan). ”Tidak tahu dapat bantuan dari pemerintah daerah atau dari mana. Saya dapatnya dari poktan,” beber dia.
Di awal tanam, jagung memang tumbuh cukup meyakinkan. Daunnya lebar, berwarna hijau dan batangnya terlihat besar-besar. Namun hanya berselang dua minggu, tanaman jagung mulai terlihat aneh, dan tak tumbuh subur. ”Sudah diberi pupuk dan lain sebagainya. Intinya saya rawat benar-benar tapi tetap rusak,” katanya.
Akhirnya tanaman jagung seluas 1.100 meter persegi miliknya dibiarkan begitu saja. Melihat perkembangannya yang tidak menyenangkan, ia tidak meneruskan perawatan. Sebab, bila diteruskan perawatannya nanti malah merugi karena tidak menghasilkan. ”Kalau pakai bibit nonsubsidi biasanya mendapat 4 kwintal. Tapi ini 1 kwintal saja paling tidak dapat,” ungkap dia.
Bahkan, banyak petani di tempatnya yang mengganti tanaman ulang. ”Ada yang berusia dua minggu. Melihat tanamannya tidak sehat langsung diganti menggunakan bibit beli sendiri,” tuturnya. Lebih dari itu, sebagian petani juga memilih tak menanam biji dari bantuan pemerintah. ”Saya kemarin juga dapat, tapi tidak saya tanam,” celetuk Seger petani lainnya.
Langkah itu dilakukan karena banyak petani yang menanam bibit jagung bantuan, justru harus mengulang tanam kembali. ”Banyak yang gagal makanya saya tidak tanam. Malah buang ongkos tanam,” tuturnya.
Dikonfirmasi hal ini, Tamaji Ketua Kelompok Tani (Poktan) Dusun Sembung, tak menampik adanya bantuan bibit jagung dari pemerintah. Namun dirinya tidak bisa memastikan bibit tersebut bantuan dari dinas pertanian kabupaten, provinsi atau pusat. ”Itu dari dinas pertanian, mungkin dari Jombang,” ujar dia.
Dirinya tak menampik bila hasil bibit jagung yang ditanam warga tidak memuaskan. Buahnya banyak yang rusak. ”Jagungnya bogang-bogang. Bunganya juga seperti dimakan ulat,” katanya. Diprediksi cuaca yang masih sering hujan juga turut berpengaruh sehingga banyak tanaman jagung rusak dan tidak berbuah maksimal.
”Kalau menurut saya bantuan turun di saat yang tidak pas. Apabila musim kemarau mungkin hasilnya bagus. Ini petani juga masih mencoba,” imbuhnya. Saat disinggung pembagiannya, Tamaji menyebut semua dibagikan kepada petani yang membutuhkan. Bahkan, tidak ada batasan yang diberikan. ”Ya sesuai kebutuhan petani. Apabila butuh satu karung ya diberikan,” beber dia.
Hingga saat ini pihaknya belum melapor ke pegawai penyuluh pertanian (PPL) terkait banyaknya petani yang gagal panen. Termasuk melapor ke Dinas Pertanian Jombang. ”Kalau laporan kami belum,” pungkas Tamaji. (yan/bin/riz) Editor : Achmad RW