’’Itu bangunan masih belum satu tahun sudah rusak. Jadi masih menjadi tanggung jawab pelaksana,’’ kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Jombang, Miftahul Huda, kemarin.
Kerusakan itu menurutnya menjadi kewajiban pihak pelaksana untuk segera melakukan perbaikan.
’’Harus secepatnya dilakukan perbaikan. Jangan dibiarkan terus. Malah semakin rusak nantinya,’’ tegasnya.
Politisi PKB ini menegaskan, seharusnya sebelum Lebaran perbaikan sudah rampung. Karena proyek yang berada di tengah kota itu akan dilihat banyak masyarakat.
’’Ini kan jadi malu-maluin, masak bangunan baru langsung rusak,’’ ungkapnya. Apabila tidak segera diperbaiki, pihaknya berencana melakukan pemanggilan. ’’Kami juga minta agar uang jaminan perbaikan tidak dicairkan sampai perbaikan dilakukan,’’ tandasnya.
Beberapa titik keramik di Jl KH Wahid Hasyim Jombang yang rusak semakin banyak. Sejumlah pohon mati hingga (25/4), juga tak segera diganti. Padahal, proyek rehab drainase dan trotoar ini menelan anggaran hingga Rp 16,7 miliar.
Pantuan di lokasi, terdapat beberapa titik keramik yang mengalami kerusakan cukup parah. Diantaranya di depan Kantor Pengadilan Negeri, depan PLN dan sekitar pertokoan perempatan Tugu Jombang. Sejumlah pohon yang mati, juga belum diganti sampai sekarang. Jumlahnya cukup banyak, mencapai 102 pohon di sepanjang Jl KH Wahid Hasyim.
’’Baru selesai dibangun tahun kemarin, tapi sudah banyak yang rusak,’’ ujar Aprianto, salah satu warga di sekitar lokasi. Ia mengungkap, banyak keramik yang retak bahkan sampai hancur. Kerusakan keramik yang dipasang belum genap setahun itu lantaran bahan material berkualitas rendah, dengan pemasangan asal-asalan.
’’Banyak juga keramik yang sudah menggelembung,’’ tambahnya. Seharusnya, kerusakan keramik yang ada di sejumlah titik segera diperbaiki dengan diganti baru. ’’Jangan dibiarkan begitu saja, seharusnya segera diperbaiki karena ini proyek di tengah kota sehingga banyak yang melihat,’’ tegasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Tirta perwakilan PT Asri Jaya Putra Perkasa, mengaku sudah proses pemesanan keramik dan pohon yang mati. Proses pemesanan itu cukup lama karena keramik harus didatangkan dari Jakarta. Proses ini tidak sebanding dengan pemesanan pohon bergaransi yang semakin lama karena jumlahnya sangat terbatas.
’’Ini masih menunggu datangnya keramik maupun pohon. Setelah itu langsung dilakukan perbaikan,’’ bebernya. Ia sendiri belum bisa memastikan kapan keramik maupun pohon tersebut tiba di Jombang. Terlebih, saat ini mendekati Lebaran. ’’Kami belum tahu kapan datangnya keramik dan pohon,’’ tambahnya Editor : M Nasikhuddin