JOMBANG – Tiga anak korban dugaan keracunan MBG di SMPN 1 Kabuh masih tergolek di ruang rawat inap Puskesmas Kabuh, Jumat (4/9) siang.
Orang tua mereka, meminta agar pemerintah menyetop program MBG tersebut karena munculnya masalah keracunan.
Seperti yang terlihat di ruang rawat inap Puskesmas Kabih Jumat Siang, ketiga siswi itu masih terlihat tergolek di ranjang. Selang infus masih terpasang di tangan mereka.
Di sisi ranjang, orang tua setia menunggui kondisi anaknya yang belum sepenuhnya pulih setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca Juga: Total Korban Dugaan Keracunan MBG di Kabuh Jadi 259 Orang, Tiga Masih Dirawat
Di tengah suasana itu, sejumlah orang tua korban mulai menyuarakan kekhawatiran terhadap kelanjutan program MBG. Mereka meminta pemberian makanan tersebut dihentikan untuk sementara, bahkan ada yang berharap program diganti dengan program lain.
Salah satunya Reni, 35, warga Desa Sukodadi, Kecamatan Kabuh. Anaknya, Aina Talita Zahran, siswi kelas 8G SMPN 1 Kabuh, menjadi salah satu korban.
Reni menceritakan, keluhan anaknya muncul setelah pulang sekolah pada Rabu (2/9). Sekitar pukul 17.00, Aina mulai mengalami sakit perut dan langsung buang air besar.
“Pulang sekolah itu langsung sakit perut, langsung BAB,” ujar Reni.
Aina kemudian menjalani perawatan. Kondisinya pada Jumat siang sudah membaik dan diperbolehkan pulang.
Meski kondisi anaknya telah membaik, pengalaman tersebut membuat Reni khawatir jika MBG tetap diberikan tanpa evaluasi menyeluruh. Dia berharap kualitas makanan, kebersihan hingga proses penyajiannya benar-benar diperhatikan.
“Lebih berhati-hatilah untuk cara menyajikannya. Kualitasnya dijaga, kebersihannya juga,” katanya.
Menurut Reni, makanan yang sudah dinilai tidak layak seharusnya tidak diberikan kepada anak-anak.
“Kalau menurut barangnya sudah tidak layak digunakan, ya jangan digunakan. Semua kan demi kesehatan anak-anak juga,” tegasnya.
Baca Juga: Dugaan Keracunan MBG di Kabuh Jombang, Dinkes Soroti Sistem Batch Masakan SPPG
Reni bahkan berharap program MBG dihentikan setelah kejadian tersebut.
“Kalau menurut saya ya mending di-stop aja lah,” ucapnya.
Alasannya, dia tidak ingin kejadian serupa kembali dialami anak-anak. Apalagi, kejadian tersebut meninggalkan trauma bagi keluarga.
“Ya lebih baik gitu aja. Udah enggak ada risiko gitu. Udah trauma,” katanya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Dewi Irawati, 43, warga Desa Sukodadi. Anak Dewi juga sempat mengalami mual setelah menyantap MBG pada Rabu (2/9).
Saat ditemui Jumat, kondisi anaknya sudah membaik. Mual, muntah dan diare yang sebelumnya dialami sudah tidak muncul lagi.
“Alhamdulillah sudah membaik. Ndak mual, ndak muntah, ndak diare,” ujar Dewi.
Namun, pengalaman tersebut membuat Dewi memiliki pandangan berbeda terhadap keberlanjutan program MBG. Dia menilai anak-anak sebenarnya sudah mendapatkan makanan yang cukup dari rumah.
“Sebetulnya MBG itu ndak perlu. Soalnya anak-anak itu kan sebetulnya makan juga sudah cukup,” katanya.
Dewi lebih mengkhawatirkan risiko kesehatan yang mungkin muncul jika kejadian serupa terulang. Menurutnya, persoalan tersebut menyangkut keselamatan anak.
“Daripada membahayakan, ini kan korbannya kan urusannya nyawa. Jadi mending itu diberhentikan aja,” tegasnya.
Dewi berharap jika program MBG dihentikan, pemerintah dapat menggantinya dengan program lain yang dinilai lebih bermanfaat.
“Program lain yang lebih bermanfaat,” harapnya.
Bagi Dewi, kepanikan orang tua saat mengetahui anaknya menjadi korban sudah cukup menjadi alasan untuk mengevaluasi keberadaan program tersebut.
“Orang tua ini kan sudah merasakan paniknya, kayak apa nyari anaknya, korbannya kondisinya kayak gitu. Kita kan sudah merasakan. Kalau sudah kayak gitu kan mending enggak usah, daripada kayak gini,” tuturnya.
Sementara terkait biaya pengobatan, Dewi mengatakan seluruh biaya anaknya ditanggung pihak MBG dan tidak dibebankan kepada keluarga.
“Gratis. Dari pemerintah katanya,” pungkasnya.
Kasus dugaan keracunan MBG di SMPN 1 Kabuh sendiri kini masih dalam penanganan dan pemeriksaan Dinas Kesehatan Jombang.
Data terbaru mencatat 259 warga sekolah mengalami keluhan kesehatan.
Dari 10 orang yang sempat menjalani rawat inap, tujuh sudah diperbolehkan pulang, sementara tiga pasien masih dirawat karena masih mengalami diare dan mual. (riz/ang)
Editor : Anggi Fridianto