JOMBANG — Jumlah warga sekolah yang mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan bergizi gratis (MBG) di SMPN 1 Kabuh, Jombang, mencapai 256 orang.
Data tersebut merupakan hasil validasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang hingga Kamis (3/9).
Kepala Dinkes Jombang dr. Hexa mengatakan, dari total tersebut, tujuh orang masih menjalani rawat inap di Puskesmas untuk mendapatkan rehidrasi karena mengalami lemas.
Sementara 74 orang menjalani rawat jalan di Puskesmas maupun klinik, termasuk Klinik Mitra Plus dan Klinik As-Syifa.
“256 ini. Ya kan masih bergerak terus, nanti apakah ada yang masuk lagi di Puskesmas atau tidak,” ujar Hexa.
Selain pasien yang mendapat penanganan di fasilitas kesehatan, terdapat 175 orang yang berobat secara mandiri.
Data tersebut diperoleh Dinkes dari pendataan pihak sekolah.
Baca Juga: Buntut Dugaan Keracunan Massal, Siswa SMPN 1 Kabuh Trauma Tak Berani Ambil MBG
Hexa menjelaskan, banyak warga sekolah awalnya mengira keluhan yang dialami hanya diare biasa.
Sebab, gejala baru muncul beberapa jam setelah makanan disantap.
“Makanannya itu kemarin, mulai kejadiannya dari kemarin. Orang dipikir diare biasa, ternyata dihitung banyak,” katanya.
Makanan MBG dikonsumsi sekitar pukul 11.30. Menurut Hexa, keluhan mulai muncul sekitar pukul 17.00 setelah para siswa pulang ke rumah.
Gejala yang muncul antara lain diare, mual, muntah, dan sebagian mengalami kondisi lemas.
“Pulang di sekolah, di rumahnya itu baru ada yang diare, ada mual-mual, muntah seperti itu,” ujarnya.
Dari pola keluhan yang dialami banyak orang dengan gejala serupa, Dinkes melihat adanya dugaan intoleransi makanan atau persoalan kualitas makanan.
“Diare, mual-mual, terus kemudian ada yang sebagian muntah. Itu tanda-tanda dari adanya intoleransi makanan atau kualitas makanan,” jelas Hexa.
Meski demikian, Dinkes belum menetapkan makanan tertentu sebagai penyebab.
Untuk memastikan sumber masalah, petugas mengambil sampel makanan dari dapur SPPG yang memasok MBG ke SMPN 1 Kabuh.
Sampel yang tersedia dari penyimpanan makanan SPPG meliputi sayuran, udang berbumbu saus padang, nasi, dan pepaya.
Sampel air juga turut diambil untuk pemeriksaan. Hexa mengatakan, air ikut diperiksa karena diketahui air yang digunakan berasal dari depot isi ulang di sekitar lokasi.
“Airnya juga, karena kemarin ternyata mengambil air dari isi ulang tetangga sebelah,” katanya.
Seluruh sampel tersebut selanjutnya dikirim ke BLK Surabaya untuk pemeriksaan laboratorium.
Pengambilan sampel dilakukan setelah penanganan terhadap warga sekolah yang mengalami keluhan kesehatan diprioritaskan.
“Jadi setelah evakuasi untuk pasiennya, kita melakukan tindakan. Yang penting acuan kita untuk pasiennya dulu. Sudah ter-cover semuanya, baru kita cek ke SPPG,” ujar Hexa.
Baca Juga: Petaka Puluhan Siswa SMPN 1 Kabuh Jombang Diduga Keracunan MBG, Kepala SPPG Buka Suara
Selain pemeriksaan sampel, Dinkes Jombang juga akan melakukan evaluasi terhadap penerapan standar kesehatan di dapur SPPG.
Salah satunya dengan mengevaluasi kembali Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang sebelumnya telah dimiliki.
“Kita lakukan evaluasi SLHS lagi. Sesuai dengan aturan protapnya atau tidak, kita perbaiki lagi,” katanya.
Sementara itu, tujuh pasien yang masih dirawat di Puskesmas Kabuh disebut dalam kondisi membaik.
Mereka mendapat rehidrasi untuk mengatasi kondisi lemas akibat kehilangan cairan.
“Sudah bagus kondisinya, paling cuma rehidrasi saja. Mungkin besok pulang,” ujar Hexa.
Kasus ini bermula setelah siswa SMPN 1 Kabuh menyantap MBG pada Rabu (2/9).
Menu yang dibagikan terdiri dari nasi putih, udang saus padang, tahu susu, tumis wortel, sawi putih dan brokoli, serta pepaya.
Baca Juga: Ini Daftar Menu MBG yang Diduga Bikin Siswa Keracunan di Kabuh Jombang, Polisi Lakukan Penelusuran
Sejumlah siswa mengeluhkan kondisi udang yang dinilai memiliki bau tidak sedap.
Dokter Puskesmas Kabuh, dr. Aditya Bimantara, sebelumnya menyebut dugaan sementara mengarah pada udang.
Namun, penyebab pasti belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil pemeriksaan sampel.
Polisi juga masih melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan dari sekolah, dapur SPPG Mangunan dan mitra, serta menelusuri distribusi MBG dengan menu yang sama ke penerima manfaat lainnya. (riz/ang)
Editor : Anggi Fridianto