JOMBANG — Jumlah siswa SMPN Kabuh Jombang yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan bergizi gratis (MBG) bertambah.
Hingga Kamis (3/9) pukul 11.30 WIB, sebanyak 70 siswa tercatat menjalani pemeriksaan di Puskesmas Kabuh.
Dari jumlah tersebut, lima siswa masih menjalani rawat inap.
Sementara itu, sebagian siswa lainnya telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis.
Dokter Puskesmas Kabuh, dr. Aditya Bimantara, mengatakan keluhan yang dialami para siswa didominasi diare, kram perut, dan nyeri lambung.
Baca Juga: Gawat! Puluhan Siswa SMPN Kabuh Jombang Diduga Keracunan MBG, Diare Hingga Dilarikan ke Puskesmas
Berdasarkan pemeriksaan sementara, gejala tersebut mengarah pada dugaan keracunan.
“Keluhannya didominasi diare, perut mulas dan melilit, serta nyeri lambung.
Berdasarkan pemeriksaan sementara, kemungkinan mengarah pada keracunan,” ujarnya.
Dugaan tersebut berkaitan dengan menu MBG yang disantap para siswa sehari sebelumnya.
Aditya menyebut sejumlah siswa mengaku bahwa makanan yang memiliki rasa atau aroma kurang sedap adalah udang.
“Beberapa siswa sempat saya tanyai mengenai makanan yang rasanya tidak enak atau aromanya kurang sedap.
Sebagian besar menyebut udang,” katanya.
Oleh karena itu, dugaan sementara mengarah pada menu udang.
Namun, dokter belum dapat memastikan bahwa makanan tersebut merupakan penyebab keluhan yang dialami puluhan siswa.
“Untuk sementara, kemungkinan mengarah pada udang,” lanjut Aditya.
Para siswa mulai merasakan keluhan sejak Rabu (2/9) malam, beberapa jam setelah menyantap MBG.
Mayoritas mengalami diare, sementara sebagian lainnya mengalami muntah yang menyebabkan tubuh lemas.
Lima siswa yang masih menjalani perawatan dipantau di Puskesmas Kabuh karena kondisinya lebih lemas.
Sebelumnya, dokter menyebut terdapat siswa yang mengalami peningkatan denyut nadi akibat kehilangan cairan setelah muntah dan diare.
Meski demikian, tidak ada siswa yang harus dirujuk ke rumah sakit.
Siswa lainnya telah mendapatkan obat dan penanganan awal sebelum diperbolehkan pulang.
“Tidak ada, alhamdulillah. Beberapa siswa sudah kami pulangkan setelah mendapatkan obat dan penanganan awal,” pungkas Aditya. (riz/ang)
Editor : Anggi Fridianto