RadarJombang.id – Seorang pria bernama Sholihin, 50, warga Desa Tambar, Kecamatan Jogoroto, ditemukan meninggal dunia di kamar Kost Sinar Naga, Dusun Wonokerto, Desa Peterongan, Kecamatan Peterongan, Rabu (1/7) pagi.
Korban diduga meninggal akibat serangan jantung setelah sempat mengalami kejang-kejang.
Kapolsek Peterongan AKP Hidayaturrachman mengatakan, peristiwa itu diketahui sekitar pukul 10.00.
Baca Juga: Tewaskan Istri Siri lalu Kabur ke Lampung, Purnomo Dituntut 18 Tahun Penjara
"Awal mulanya korban sekitar pukul 07.05 korban menghubungi seorang perempuan bernama Mr 31, melalui panggilan WhatsApp untuk mengajaknya bertemu di kamar kos tersebut,” terangnya.
Setelah tiba di lokasi, Mr mendapati korban telah berada di dalam kamar sambil duduk di tepi kasur. Keduanya kemudian berbincang selama sekitar lima menit. "Korban sempat berbincang dengan saksi beberapa menit," ujarnya.
Usai berbincang, korban mengambil dan meminum air mineral dari botol berukuran 1.600 mililiter. Tak lama kemudian, korban berpindah tempat duduk ke sisi kasur dekat kamar mandi. "Setelah minum air putih, korban berpindah duduk," terangnya.
Baca Juga: Bonceng Tiga dan Melaju Kencang, Remaja di Jombang Tewas Tabrak Truk di Ploso
Beberapa saat kemudian, korban tiba-tiba mengalami kejang-kejang hingga akhirnya tidak sadarkan diri.
Melihat kondisi tersebut, MR pun panik dan berlari meminta pertolongan kepada penjaga kos. "Saksi langsung meminta bantuan penjaga kos," jelas Hidayaturrachman.
Penjaga kos bersama Ketua RT kemudian menuju kamar korban dan mendapati pria tersebut telah meninggal dunia. Petugas kepolisian yang datang ke lokasi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara serta memeriksa kondisi jasad korban.
"Dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya luka maupun tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban," ungkapnya.
Berdasarkan pemeriksaan awal, korban diduga meninggal akibat serangan jantung. Polisi juga memperoleh informasi bahwa korban memiliki riwayat penyakit gondok atau infeksi tenggorokan.
"Dugaan sementara korban meninggal karena serangan jantung," tegas Hidayaturrachman.
Pihak keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi.
Penolakan itu disampaikan secara tertulis kepada petugas kepolisian.
"Keluarga menerima sebagai musibah dan tidak menghendaki autopsi," pungkasnya. (riz)
Editor : Achmad RW