RadarJombang.id – Puluhan santri Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Jombang, mendadak bertumbangan usai berbuka puasa, Kamis (5/3) petang.
Para santri mengalami mual, muntah hingga lemas setelah menyantap nasi rawon dan telur asin dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa bermula saat para santri menjalani buka puasa bersama seusai azan maghrib.
Tidak lama setelah makan, sejumlah santri mulai mengeluhkan mual yang kemudian diikuti muntah secara beruntun.
Pengasuh PP Sholawat Darut Taubah, Muhammad Adam, mengatakan awalnya ia mengira kondisi tersebut hanya akibat kelelahan setelah berpuasa seharian.
Namun situasi berubah ketika keluhan dialami banyak santri dalam waktu hampir bersamaan.
“Baru makan, belum semuanya selesai, sudah ada yang mual lalu muntah. Saya kira hanya telat makan atau lemah, ternyata banyak yang mengalami,” ujarnya.
Kondisi paling parah dialami santri putri. Beberapa di antaranya terlihat lemas, menangis hingga pingsan sehingga pengurus pondok langsung melakukan penanganan darurat.
“Yang perempuan terutama, ada yang lemas, nangis, bahkan sampai pingsan. Kami langsung koordinasi minta bantuan ambulans,” katanya.
Tak lama berselang, armada ambulans datang dan mengevakuasi para santri ke RS PKU Muhammadiyah Mojoagung.
Total 40 santri dilarikan ke rumah sakit, terdiri dari 30 santri putri dan 10 santri putra.
Muhammad Adam menjelaskan, menu berbuka saat itu berupa nasi dengan sayur rawon yang dimasak pihak pondok serta telur asin bantuan MBG dari SPPG Medek.
“Nasinya dan rawon dari pondok, sedangkan telur asin berasal dari MBG,” jelasnya.
Menurutnya, paket MBG yang diterima pondok biasanya disalurkan untuk beberapa hari selama Ramadan, berisi roti, buah-buahan dan telur asin.
Dari sekitar 84 santri yang tinggal di asrama, tidak seluruhnya mengalami keluhan.
Ia mengaku sempat mendapat informasi bahwa sebagian santri yang muntah mengeluarkan makanan berupa telur asin.
“Ada yang muntah itu keluar telur asinnya. Yang tidak makan telur asin, termasuk saya, hanya makan rawon dan tidak mengalami apa-apa,” ungkapnya.
Meski demikian, pihak pondok belum dapat memastikan penyebab pasti insiden tersebut dan masih menunggu hasil pemeriksaan medis serta uji laboratorium dari dinas terkait.
Hingga Kamis malam, puluhan santri masih menjalani perawatan di rumah sakit, sementara pihak pondok terus berkoordinasi dengan tenaga kesehatan dan penyelenggara MBG guna memastikan penanganan lanjutan serta keamanan konsumsi santri. (riz)
Editor : Achmad RW