Mahasiswa Magang BK UNESA Perkuat Regulasi Emosi dan Kontrol Diri di Rutan Kelas IIB Nganjuk

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 14:32 WIB

 

INTERAKTIF: Mahasiswa UNESA saat magang di Rutan Kelas IIB Nganjuk.
INTERAKTIF: Mahasiswa UNESA saat magang di Rutan Kelas IIB Nganjuk.

 

NGANJUK - Rumah Tahanan Negara (rutan) kerap dipandang sebagai tempat pembatasan kebebasan.

Namun, ketika berada di dalamnya, pandangan tersebut berubah. Di balik tembok dan jeruji, kehidupan berjalan.

Baca Juga: Temu Alumni FISIP Unej 2026, Kepala LAN hingga Anggota DPR RI Kompak Siapkan Program untuk Mahasiswa

Warga binaan menjalani rutinitas serta mengikuti kegiatan pembinaan sebagai bagian dari proses mempersiapkan diri kembali ke masyarakat. 

Melalui program magang berdampak di Rutan Kelas IIB Nganjuk, mahasiswa S1 Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Surabaya (UNESA) memperoleh pengalaman untuk melihat dinamika kehidupan dan proses pembinaan warga binaan.

Selama pelaksanaan magang, mahasiswa tidak hanya melakukan observasi, tetapi turut terlibat dalam kegiatan di Rutan Kelas IIB Nganjuk.

 

Keterlibatan tersebut mencakup pelayanan administrasi, pelayanan kunjungan, kegiatan kehumasan, pelayanan langsung kepada warga binaan, serta dukungan terhadap pelaksanaan tugas keamanan dan pelayanan tahanan.

 

Mahasiswa juga terlibat dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan potensi warga binaan, seperti pendidikan melalui program kejar paket, kegiatan keagamaan, ketahanan bahan pangan, olahraga, serta kegiatan keterampilan. 

Salah satu program berdampak yang dilakukan adalah psikoedukasi regulasi emosi dan kontrol diri.

Kegiatan diawali dengan asesmen melalui pre-test untuk mengetahui kondisi awal peserta. Sasaran kegiatan mencakup warga binaan dengan kasus tawuran dan kekerasan seksual.

 Pada warga binaan kasus tawuran, kegiatan berfokus pada regulasi emosi. Sedangkan pada kasus kekerasan seksual, berfokus pada kontrol diri.

Setelah psikoedukasi, kegiatan dilanjutkan melalui bimbingan kelompok yang melibatkan diskusi, latihan penerapan keterampilan, dan refleksi untuk membantu peserta mengelola emosi serta mengendalikan respons dan perilaku.

 

Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan post-test sebagai bagian dari evaluasi. Selain itu, mahasiswa menyusun modul layanan BK mengenai regulasi emosi dan kontrol diri serta infografis edukatif yang dapat digunakan sebagai media pendukung kegiatan pembinaan di rutan.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembinaan bukan sekadar menjalankan aktivitas, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang memperhatikan kondisi psikologis dan sisi kemanusiaan.

 

Keterlibatan mahasiswa BK UNESA menjadi bentuk penerapan pembelajaran di lapangan. Pengalaman ini juga membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan layanan BK serta memahami kebutuhan individu dalam lingkungan yang beragam. (ang)

(https://bk.fip.unesa.ac.id)

 

Editor : Anggi Fridianto
rutannganjuk bkunesa MobilitasAkademikUNESA konseling unesa