Selasa (28/7) saat pengajian kitab Nasoihul Ibad di Masjid Ulil Albab, Tebuireng, KH Fahmi Amrullah Hadziq selaku pengasuh Pesantren Putri Tebuireng, menjelaskan pentingnya mensyukuri hidup.
’’Manusia itu diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya dan dengan nikmat yang sebanyak-banyaknya,’’ tuturnya mengutip QS Attin 4.
Hidup merupakan nikmat yang paling besar. Semua orang mati ingin hidup kembali. Maka jika merasa tidak punya nikmat, pergilah ke kuburan.
Kita harus bersyukur dengan ibadah.
’’Salat dan ngaji seperti ini termasuk bentuk mensyukuri nikmat,’’ terangnya.
Orang yang bersyukur maka nikmatnya akan ditambah oleh Allah Ta’ala.
Sebaliknya, orang yang tidak bersyukur maka nikmatnya akan hilang. Kiai Fahmi lalu cerita Saklabah.
Mulanya ia rajin ibadah. Setelah salat dia langsung pulang karena hanya punya pakaian satu. Dipakai bergantian dengan istrinya.
Saklabah lalu minta didoakan agar kaya. Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam pun mendoakan dan memberinya seekor kambing. Namun setelah kambingnya jadi seribu, dia kufur nikmat. Saklabah mulai enggan salat berjamaah. Juga enggan membayar zakat.
Nabi lalu berdoa agar Allah Ta’ala mengangkat nikmat harta yang diberikan kepada Saklabah dan mengganti dengan nikmat ibadah.
Ini menunjukkan bahwa pada dasarnya segala nikmat manusia sudah memiliki porsi masing-masing.
Kita sebagai hamba harus mensyukuri nikmat yang ada.
Oleh: Syakila Amalia Muttaqin, Kelas 11-E MA Salafiyah Syafiiyah Tebuireng
Editor : Anggi Fridianto