JOMBANG - SMK YPM 14 Sumobito mewujudkan cita-cita yang direalisasikan melalui pembiasaan ibadah, disiplin industri, dan kompetensi vokasi yang dilakukan setiap hari. SMK YPM 14 Sumobito tidak memisahkan antara kecanggihan teknologi dan kekuatan iman dengan menerapkan keunggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) plus Iman dan Takqa (IMTAQ) sebagai distingsi utama.
”Program Kecakapan Penerapan Ibadah (KPI) membekali siswa tidak hanya dengan skill teknis, tetapi juga kemampuan memimpin salat berjamaah, khutbah Jumat, hingga merawat jenazah. Lulusan sekolah ini adalah ’santri-teknisi’ profesional di bengkel atau lab, maupun pemimpin di masjid,” urai Kepala SMK YPM 14 Sumobito, Drs Keman.
SMK YPM 14 Sumobito menerapkan budaya industri melalui program Teaching Factory (TeFa), bengkel dan laboratorium sekolah beroperasi layaknya industri nyata. Siswa melayani pelanggan, memproduksi karya, dan bekerja sesuai SOP industri. Budaya 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), 3S (Senyum, Salam, Sapa), dan standar Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) diterapkan setiap hari. Selain praktik di sekolah, siswa juga menjalani PKL (magang) enam bulan pada semester tiga dan empat di perusahaan mitra, sehingga mereka memiliki pengalaman kerja industri yang nyata ketika lulus.
Baca Juga: Selamat! Ini Daftar Sekolah Penyumbang Terbanyak Siswa Lolos SNBT 2026 di Jombang
Budaya organisasi YPM yang dirumuskan dalam Catur Wiguna yakni empat kegunaan nilai yang menjaga lembaga tetap bermanfaat, bermutu, tertib, dan inovatif. Berlandaskan moto Berilmu, Beramal, Bertaqwa dan semangat khoirunnas anfauhum linnas. Budaya ini tercermin dalam berbagai program nyata meliputi home visit wali kelas, beasiswa siswa yatim, lomba inovasi guru, hingga gerakan lingkungan Clean and Tidy.
”Kami menginginkan SMK YPM 14 Sumobito bukan hanya sekadar menjadi unit pendidikan, ia adalah ruang pembentukan manusia yang berguna,” tutur Keman.
Salah satu agenda pengembangan utama SMK YPM 14 Sumobito ke depan, penguatan program Teaching Factory (TeFa). Pengembangan ini mencakup tiga arah sekaligus. Yakni digitalisasi sistem TeFa melalui platform pemesanan layanan dan logbook online berbasis teknologi web. Perluasan jangkauan layanan TeFa kepada masyarakat umum sehingga bengkel dan laboratorium sekolah tidak hanya melayani kebutuhan internal tetapi menjadi unit jasa yang memberi manfaat nyata bagi warga sekitar.
Serta sinkronisasi kurikulum TeFa secara berkala bersama mitra Industri dan Dunia Kerja (IDUKA) agar kompetensi yang diajarkan selalu selaras dengan kebutuhan industri terkini.
Melalui digitalisasi TeFa, siswa tidak hanya belajar memperbaiki kendaraan atau membangun jaringan, mereka juga berlatih mengelola sistem informasi layanan secara langsung.
”Hal ini merupakan wujud nyata visi sekolah yakni mencetak lulusan yang tidak sekadar terampil secara teknis, namun juga siap memimpin dan berinovasi di era digital,” urainya. (dwi/jif)
Editor : Anggi Fridianto