JOMBANG – Ribuan anak di Kabupaten Jombang tercatat masuk kategori Anak Tidak Sekolah (ATS). Dari hasil verifikasi lapangan, mayoritas ATS diketahui sudah bekerja dan tidak ingin melanjutkan pendidikan formal.
’’Data yang kami peroleh dari pusat jumlahnya 7.281 anak tidak sekolah,’’ kata Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Non Formal (PNF) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Maria Ulfah, kemarin.
Ribuan ATS tersebut berasal dari berbagai kategori dan jenjang pendidikan. Rinciannya, sebanyak 1.646 anak merupakan lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke jenjang SMA/SMK. Kemudian 353 siswa lulusan SD tidak melanjutkan ke SMP.
Selain itu, terdapat 2.037 anak yang belum pernah bersekolah sama sekali dan 3.245 anak tercatat putus sekolah atau drop out.
’’Data belum pernah sekolah itu diambil mulai usia 7 sampai 24 tahun,’’ terangnya.
Data ATS mencakup seluruh jenjang pendidikan mulai SD/sederajat. SMP/sederajat hingga SMA/SMK/sederajat. Hasil verifikasi menunjukkan sebagian besar ATS memilih bekerja dibanding melanjutkan pendidikan.
Baca Juga: Kuota Sekolah Rakyat Jombang Ditetapkan 270 Siswa, Anak Terlantar dan Putus Sekolah Jadi Prioritas
’’Dari hasil verifikasi, sebagian besar mereka bekerja dan memang sudah tidak mau bersekolah,’’ jelasnya.
Proses pendataan ATS dilakukan melalui sistem dari Kemendikdasmen dan diverifikasi langsung oleh berbagai pihak di daerah. ’’Pendataan difasilitasi Kemendikdasmen, kemudian diverifikasi oleh sekolah atau madrasah asal bersama pemerintah desa,’’ urainya.
Verifikasi tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi riil anak yang masuk dalam data ATS. Termasuk memastikan apakah anak benar-benar putus sekolah, sudah bekerja, atau berpindah domisili.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang terus mendorong penanganan ATS melalui program pendidikan nonformal dan kesetaraan agar anak-anak yang masih memungkinkan kembali belajar dapat memperoleh akses pendidikan.
’’Kami memberikan solusi melalui program Kesetaraan melalui SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) atau PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat),’’ ungkapnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto