Selasa(26/8) bakda salat Duha di Madrasah Salafiyah Syafiiyah Tebuireng digelar
kajian rutin kitab Risalah Ahlussunnah Waljamaah karya Hadratusseyh KH Hasyim Asy’ari yang diasuh Mudir Ma’had Aly Tebuireng, Dr KH Achmad Roziqi.
Beliau menjelaskan tentang pentingnya selektif bertasawuf.
’’Termasuk kafir seseorang yang mengaku dari golongan ahli tasawuf yang mengatakan dia diberi wahyu dan meskipun dia itu tidak mengaku-ngaku sebagai nabi,’’ tuturnya.
Tasawuf memiliki 2.000 definisi dan semuanya berujung pada satu definisi, yaitu menghadap kepada Allah dengan cara yang benar.
Maka kita harus belajar tasawuf kepada orang yang tepat agar tidak melenceng dari Alquran, hadis, ijma dan qiyas.
Orang yang tepat adalah guru yang ajarannya tidak bertentangan dengan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Karena itu kita harus membaca dan mengetahui tentang biografi Rasulullah. Terutama melalui sirah nabawiyah.
Beliau mengutip cerita dari Dr KH Ahmad Musta'in Syafi'ie yang mengatakan: Jangan sampai kita membanggga-banggakan diri ('ujub) karena bermimpi ketemu Rasulullah. Seperti halnya orang yang menemukan mutiara, kok malah di koar-koarkan. Seharusnya kan disimpan dalam-dalam.
Setiap orang yang menyampaikan ucapan yang dapat menyesatkan umat dan ucapan-ucapan pengkafiran sahabat, maka hal tersebut dipastikan kafir juga. Setiap orang yang melakukan perbuatan seperti orang kafir maka termasuk kafir. Seperti sujud pada salib atau api.
Jangan sampai terjebak oleh perilaku yang dilakukan oleh orang yang tidak jelas. Seperti yang ada di media sosial. Maka jangan sampai menirunya.
Oleh M Hilmi Nizam H, Kelas 11-C MA Salafiyah Syafiiyah Tebuireng
Editor : Anggi Fridianto