Bagi Dr Ika Lusi Kristanti MPd, mengajar Bahasa Inggris bukan sekadar menyampaikan materi di ruang kelas. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu membentuk manusia yang peka, peduli, dan memiliki empati terhadap sesama.
Prinsip itu yang selama ini dipegang dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Jombang tersebut dalam perjalanan pengabdiannya sebagai akademisi.
Perempuan kelahiran Jombang, 19 November 1986 itu berasal dari Dusun Banjarpoh, Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro. Perjalanan pendidikannya dimulai dari MI Islamiyah Banjarpoh dan lulus pada 1998. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di MTs Darussalam Ngoro hingga lulus 2001.
Pendidikan menengah atas ditempuh di SMA Negeri Ngoro dan selesai pada 2004. Ketertarikannya pada dunia pendidikan Bahasa Inggris membawanya melanjutkan studi di STKIP PGRI Jombang pada jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan lulus 2008.
Semangat belajarnya terus berlanjut hingga menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Negeri Surabaya pada program Pendidikan Bahasa dan Sastra konsentrasi Pendidikan Bahasa Inggris 2012. Pada 2026, ia berhasil menuntaskan pendidikan doktoralnya di kampus yang sama.
Sejak 1 Juli 2010, Dr Ika Lusi Kristanti mulai mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Jombang. Selama mengajar, ia dikenal sebagai sosok yang tidak hanya fokus pada kemampuan akademik mahasiswa, tetapi juga perkembangan karakter dan emosional mereka.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi saat mengajar mata kuliah Listening.
Saat itu, ia mengangkat tema emotional understanding dalam diskusi kelas. Suasana pembelajaran yang awalnya berjalan akademis berubah menjadi ruang refleksi kehidupan.
”Banyak mahasiswa mulai menyadari bahwa mendengarkan bukan sekadar mencari jawaban benar, tetapi bentuk kepedulian terhadap orang lain,” ujarnya.
Baca Juga: Kepala LLDIKTI Jatim Dorong Guru Besar UPJB Jadi Lokomotif Inovasi dan Penguatan SDM
Momen yang paling diingat adalah ketika seorang mahasiswa menulis refleksi di akhir semester.
”Kelas ini mengajarkan saya bahwa memahami bahasa itu penting, tetapi memahami perasaan manusia jauh lebih penting,” kenangnya.
Bagi Dr Ika, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pembelajaran akan lebih bermakna ketika mahasiswa tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih peka dan berempati.
Ia juga terinspirasi dari kutipan Maya Angelou yang berbunyi, ’’People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”
Selain itu, kutipan dari Alfred Adler juga menjadi prinsip dalam proses mengajarnya. ”Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another, and feeling with the heart of another.”
Baca Juga: Era Baru Kampus Digital, Bank Jatim Luncurkan Pembayaran Virtual Account di UPJB
Menurutnya, mengajarkan bahasa sejatinya juga mengajarkan empati. ”Pembelajaran akan menjadi lebih bermakna ketika mahasiswa merasa didengar, dihargai, dan dipahami,” tuturnya.
Selain aktif mengajar, Dr Ika juga aktif dalam penelitian dan pengabdian masyarakat. Ia tercatat tiga kali mendapatkan hibah penelitian dosen pemula dari Dikti dan satu kali hibah pengabdian kepada masyarakat.
Dalam aktivitas organisasi, ia bergabung dengan PGRI dan ICEAR. Bagi Dr Ika Lusi Kristanti, pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana seorang pendidik mampu menghadirkan ruang belajar yang menumbuhkan kepedulian dan rasa kemanusiaan. (ang/jif)
Editor : Anggi Fridianto