JOMBANG – Dedikasi panjang di dunia pendidikan ditunjukkan Kepala SMKN 3 Jombang, Drs Khasanuddin MMPd. Pria kelahiran Jombang, 26 Juli 1967 ini telah mengabdikan diri sebagai pendidik sejak lulus dari perguruan tinggi pada 1990 hingga kini.
Baginya, menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi panggilan jiwa. ’’Ada faktor bakat dan keturunan, karena kedua orang tua saya guru. Mengajar itu seperti menanam investasi nilai bagi kehidupan,’’ kata Khasanuddin.
Ia menilai, seorang guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga mewariskan nilai, karakter, dan budaya luhur kepada peserta didik. Bahkan menurutnya, berangkat dari nilai–nilai yang terkandung dalam mata pelajaran itu dapat dikonversikan menjadi nilai–nilai dan budaya. Baik untuk dikembangkan dan diterapkan di masyarakat.
’’Kita sebagai guru dituntut mewariskan nilai dan karakter atau budaya luhur yang ada di sekitar kita. Selain materi yang bersifat substantif sesuai mata pelajaran yang kita ampu,’’ ungkapnya.
Baca Juga: Prestasi SMKN 1 Jombang Makin Moncer, Berhasil Sumbang Emas FLS3N Tingkat Nasional
Perjalanan dan pengalamannya sebagai pendidik cukup panjang. Pendidikannya dimulai dari di SDN Mojokrapak 1, dilanjutkan ke MI Madinatul Ulum Mojokrapak dan MI Bahrul Ulum Tambakberas. Pendidikan menengah ditempuh di SMP Sawunggaling Jombang lulus pada 1982. Kemudian melanjutkan ke SMPP Jombang yang sekarang SMAN 2 Jombang dan lulus pada 1985.
Ketertarikannya pada dunia pendidikan mengantarkannya menempuh pendidikan tinggi di S-1 Pendidikan Matematika IKIP Surabaya yang kini bernama Unesa, lulus pada 1990. Tak berhenti di situ, ia melanjutkan pendidikan pascasarjana S-2 Manajemen Pendidikan di STIE Indonesia Malang dan lulus pada 2011.
Kariernya sebagai pendidik dimulai sebagai guru tidak tetap (GTT) di MAN 3 Jombang serta SMA Madinatul Ulum Mojokrapak, Tembelang. Ia dipercaya menjabat sebagai kepala SMA Madinatul Ulum pada periode 2013 hingga 2018.
Pada 1993, ia resmi diangkat sebagai CPNS dan bertugas di SMKN 3 Jombang. Di sekolah tersebut, ia mengajar hingga tahun 2018. Sekaligus menorehkan kontribusi besar dalam pengembangan pendidikan kejuruan.
Selain mengajar, ia aktif dalam organisasi profesi. Pada 2006 hingga 2012, ia menjabat sebagai ketua MGMP Matematika SMK Kabupaten Jombang. Perannya semakin luas ketika dipercaya sebagai Instruktur Nasional Kurikulum SMK 2013 pada periode 2013 hingga 2016.
Karier kepemimpinannya berlanjut saat ia mendapat tugas tambahan sebagai kepala SMK Kudu Jombang pada 2018. Kemudian, sejak September 2021 hingga sekarang, ia menjabat sebagai kepala SMKN 3 Jombang.
Sejumlah capaian prestasi turut mengiringi perjalanan kariernya. Di antaranya, peserta dengan predikat sangat memuaskan dalam Diklat Penguatan Kepala Sekolah oleh LPPKS pada 25 Oktober hingga 1 November 2019. Ia juga menerima piagam tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya XX Tahun pada 9 November 2019 dan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun pada 19 Februari 2025.
Ia juga pernah menjadi narasumber dalam pelatihan pemanfaatan Office 365 dalam pembelajaran pada 2–5 Juni 2020. Serta instruktur dalam pelatihan implementasi pembelajaran guru SMK PK pada 24 Mei hingga 5 Juni 2021.
Kemampuannya terus diasah melalui berbagai pelatihan. Seperti Pelatihan Peningkatan Kapabilitas Manajerial Kepala SMK Berbasis Industri pada 23–30 Mei 2022. Bahkan, ia meraih peringkat unggul dalam Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) pada 31 Januari 2024.
Di bawah kepemimpinannya, sekolah juga dipercaya menjalankan berbagai program strategis. Seperti Program SMK Pusat Keunggulan (SMK PK) Reguler Baru pada 2023. Reguler Lanjutan pada 2024. Serta Skema Pembelajaran Mendalam pada 2025.
Baca Juga: Guru SMKN 3 Jombang Widya Pertiwi: 24 Tahun Mengabdi dan Menjadi Panutan
5 Aspek Pendidikan, Menyeimbangkan Karakter dan Adaptasi Zaman
Perkembangan pendidikan yang semakin dinamis menuntut adanya keseimbangan dalam proses pembelajaran. ’’Pendidikan ideal harus mencakup lima aspek utama,’’ kata Kepala SMKN 3 Jombang, Drs Khasanuddin MMPd.
Aspek i’tiqodiyyah (keimanan), ‘ubudiyyah (ibadah dan mu’amalah), khuluqiyyah (budi pekerti dan akhlak), tasyri’iyyah (budaya, tradisi, dan keterampilan), serta fikriyyah (pengembangan intelektual).
’’Secara substantif, pendidikan harus mencakup lima aspek tersebut. Namun dalam praktiknya, sering kali ada aspek yang kurang mendapat perhatian, sementara aspek lain lebih dominan,’’ jelasnya.
Menurutnya, ketimpangan tersebut dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku peserta didik. Baik dalam proses pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menekankan pentingnya relevansi pendidikan dengan kehidupan nyata. Pembelajaran di sekolah, harus mampu diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat setelah siswa lulus.
’’Apalagi di era sekarang, adaptasi terhadap perkembangan budaya dan teknologi harus dilakukan dengan cepat,’’ tambahnya.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, ia menilai pendidik harus terus beradaptasi tanpa mengurangi esensi dan kualitas pendidikan itu sendiri. Perubahan yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan.
Sebagai kepala sekolah, ia menjalankan berbagai program unggulan yang berfokus pada keseimbangan kompetensi siswa. Meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Program tersebut didukung dengan digitalisasi bertahap, pemenuhan sarana prasarana, serta penguatan kegiatan ekstrakurikuler. Di antaranya program rutin seperti Jumat Bersih, Jumat Sehat, dan Jumat Religi yang dilaksanakan secara bergiliran.
’’Harapannya, lulusan memiliki kompetensi lengkap untuk terjun di masyarakat maupun dunia industri,’’ ujarnya.
Untuk meningkatkan kualitas guru, ia menerapkan strategi pengembangan profesional secara berkala melalui pelatihan dan diklat. Sementara bagi siswa, diberikan kesempatan berkompetisi secara berjenjang mulai tingkat kabupaten hingga nasional dalam berbagai bidang. Seperti seni, keterampilan, dan olahraga.
Peran sekolah sangat penting dalam menghadapi perkembangan teknologi. Sekolah harus mampu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan sikap selektif dalam penggunaan media sosial.
’’Teknologi harus dimanfaatkan secara bijak, bukan justru menggerus nilai-nilai pendidikan,’’ tegasnya.
Baginya, pengalaman menjadi guru adalah perjalanan yang tidak pernah membosankan. Setiap generasi siswa membawa karakter unik yang menjadi pembelajaran sepanjang hayat bagi seorang pendidik.
”Mengajar itu mengasyikkan. Karakter siswa yang berbeda-beda justru menjadi pembelajaran hidup bagi guru,” ungkapnya.
Ia juga memaknai Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum refleksi, bukan sekadar seremoni. Menurutnya, peringatan tersebut harus menjadi ajang untuk membumikan nilai-nilai pendidikan yang berdampak nyata bagi masa depan siswa.
”Hari Pendidikan Nasional harus dimaknai sebagai upaya mengarahkan masa depan siswa sesuai potensi mereka, baik secara fisik, psikis, maupun intelektual,” ungkapnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto