JOMBANG – Sosok Panca Sutrisno SPd MSi menjadi salah satu figur penting dalam pengembangan pendidikan kejuruan di Kabupaten Jombang. Dia mengemban amanah sebagai kepala SMKN Mojoagung sejak 2020.
Motivasi Panca menjadi pendidik berangkat dari keyakinan kuat, jika pendidikan adalah kunci perubahan sosial.
’’Bagi saya, pendidikan adalah alat paling ampuh untuk memutus rantai kemiskinan dan membangun peradaban. Saya ingin melihat anak didik tidak hanya bekerja, tetapi menjadi pribadi yang mandiri dan bermanfaat,’’ kata pria kelahiran Malang pada 10 Juli 1966.
Tinggal di Miagan, Kecamatan Mojoagung, perjalanan pendidikan Panca dimulai dari SDN Pandanwangi 1 Malang, lulus pada 1979. Ia melanjutkan pendidikan ke SMPK Marsudisiwi Malang lulus 1982. Kemudian SMA Taman Madya lulus 1985.
Ketertarikannya pada bidang pendidikan, khususnya kimia, membawanya menempuh pendidikan D-III Pendidikan Kimia di Universitas Negeri Malang dan lulus pada 1988. Ia kemudian melanjutkan studi S-1 Pendidikan Kimia di Universitas Terbuka Surabaya dan lulus pada 2002. Tak berhenti di situ, ia menempuh pendidikan pascasarjana S-2 Ilmu Ekonomi di Universitas Darul Ulum Jombang dan menyelesaikannya pada 2010.
Kariernya sebagai pendidik dimulai pada 1988 sebagai guru di SMA Negeri Panggul Trenggalek hingga 1989. Setelah itu, ia mengabdikan diri dalam waktu yang panjang di SMK Negeri 3 Jombang, sejak 1989 hingga 2017.
Selama hampir tiga dekade di SMKN 3 Jombang, ia tidak hanya berperan sebagai guru, tetapi juga dipercaya memegang berbagai posisi strategis. Ia pernah menjabat sebagai bendahara sekolah pada 2009–2011.
Wakil kepala sekolah bidang kurikulum pada 2011–2012. Serta wakil kepala sekolah bidang sumber daya manusia pada 2012–2014.
Baca Juga: Expo Campus di SMAN Mojoagung Hadirkan 24 Perguruan Tinggi dan Sekolah Kedinasan, Begini Keseruannya
Selama menjadi pendidik, pengalaman paling berkesan baginya adalah saat melihat siswa yang awalnya dianggap kurang secara akademik, namun mampu membuktikan diri sukses di dunia kerja maupun berwirausaha.
’’Melihat kebahagiaan orang tua saat anaknya berhasil dan langsung terserap dunia kerja adalah kepuasan yang tidak bisa diukur dengan materi,’’ ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam karier kepemimpinannya. Pada 2018 hingga 2020, ia dipercaya menjadi Kepala SMK Negeri Kabuh, Jombang. Kemudian sejak 2020 hingga sekarang, ia memimpin SMK Negeri Mojoagung.
Dedikasi panjangnya di dunia pendidikan diganjar berbagai penghargaan. Ia menerima Satyalancana Karya Satya XX Tahun pada 2016 berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 92/TK/2016 atas pengabdian 20 tahun sebagai PNS saat bertugas di SMKN 3 Jombang.
Ia kembali menerima Satyalancana Karya Satya XXX Tahun pada 2023 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 19/TK/2023 atas pengabdian 30 tahun sebagai PNS saat menjabat sebagai guru di SMKN Mojoagung.
Di tangan Panca, SMKN Mojoagung mengembangkan berbagai program unggulan dengan konsep; Membangun Karakter, Mencetak Jawara Industri.
Salah satu program utama adalah Jum’at Beraksi (Berakhlak, Kreatif, Sehat, dan Inovatif) yang diwujudkan dalam siklus kegiatan setiap hari Jumat. Program ini mencakup berbagai kegiatan tematik seperti Jumat Legi untuk penguatan spiritual melalui istighosah dan salat duha berjamaah. Jumat Bersih untuk edukasi lingkungan. Jumat Sehat untuk kebugaran jasmani, hingga Jumat Raya untuk pengembangan kewirausahaan dan pelestarian budaya lokal.
Selain itu, terdapat Jumat Redi sebagai refleksi diri. Jumat Amanat untuk penyuluhan berbagai isu penting. Serta Jumat Sosial sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Di bidang kurikulum, ia melakukan inovasi dengan menitikberatkan pada ujian praktik kejuruan sebagai bentuk evaluasi utama kompetensi siswa. Sementara itu, penilaian mata pelajaran umum dilakukan secara otentik melalui proses pembelajaran harian.
Untuk mempercepat keterserapan lulusan di dunia kerja, sekolah juga memberikan pendampingan agar siswa dapat memperoleh pekerjaan bahkan sebelum lulus.
’’Target kami, siswa sudah siap kerja sebelum kelulusan, sehingga benar-benar menjadi lulusan yang siap pakai,’’ ujarnya. (wen/jif)
Tekankan Link and Match dengan Industri
Panca Sutrisno SPd MSi menilai Hari Pendidikan Nasional harus menjadi ajang refleksi terhadap nilai-nilai dasar pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara. ’’Hardiknas bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat bahwa pemimpin pendidikan harus mampu menjadi teladan, penggerak, dan pemberi dorongan bagi seluruh warga sekolah,’’ tegasnya.
Perkembangan pendidikan yang terus berubah menuntut adanya transformasi dalam sistem pembelajaran. Hal ini menjadi perhatian utama Panca dalam memandang pendidikan saat ini.
Menurutnya, pendidikan telah mengalami pergeseran signifikan, dari sekadar transfer pengetahuan menjadi pengembangan karakter dan kompetensi.
”Jika dulu guru menjadi satu-satunya sumber ilmu, sekarang guru berperan sebagai fasilitator dan kompas di tengah derasnya arus informasi digital,” jelasnya.
Pendidikan harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi dan dunia industri.
Sebagai kepala sekolah, Panca menghadapi tantangan utama berupa kesenjangan antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri yang berkembang sangat cepat.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia memperkuat konsep link and match dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Langkah yang dilakukan meliputi sinkronisasi kurikulum secara berkala serta menghadirkan guru tamu dari kalangan praktisi industri.
Dalam meningkatkan kualitas guru dan siswa, ia mendorong guru untuk memiliki sertifikasi kompetensi industri serta aktif dalam komunitas belajar. Sementara bagi siswa, diberikan ruang untuk berkompetisi melalui ajang seperti Lomba Kompetensi Siswa (LKS) untuk membangun mental juara.
Panca juga menegaskan pentingnya peran sekolah dalam menghadapi perkembangan teknologi. Menurutnya, sekolah harus menjadi laboratorium inovasi yang mampu mengadopsi teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.
”Kita tidak boleh anti teknologi, tetapi harus bijak memanfaatkannya sebagai alat bantu pembelajaran, tanpa menghilangkan etika dan karakter siswa,” ungkapnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto