Radarjombang.id - Belajar pertanian tak harus melulu di kelas. Puluhan siswa SMKN Mojoagung diajak turun langsung ke lapangan lewat program eduwisata yang digelar Perum Bulog Cabang Mojokerto, Jumat (24/4).
Lewat kegiatan ini, siswa dikenalkan proses ketahanan pangan secara utuh. Mulai dari sawah hingga beras tersimpan rapi di gudang. Pengalaman yang jarang didapat di bangku sekolah.
Pimpinan Cabang Perum Bulog Mojokerto Muhammad Husin mengatakan, program ini merupakan terobosan Perum Bulog untuk memberikan edukasi secara kepada siswa tentang dunia pertanian, terutama berkaitan ketahanan pangan dari hulu ke hilir.
”Tujuannya memberikan insight kepada siswa-siswi, khususnya dari SMKN Mojoagung, terkait dunia pertanian,” ujar Husin, Jumat (24/4).
Perjalanan dimulai dari area persawahan di Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Di lokasi ini, siswa melihat langsung proses pembelian gabah oleh Bulog.
Tak hanya itu, para siswa juga bisa berinteraksi dengan berbagai pihak di lapangan. ”Mereka juga berinteraksi dengan sejumlah pihak terkait, seperti Babinsa, PPL, hingga Brigade Pangan,” lanjutnya.
Setelah dari sawah, rombongan diajak menuju mitra penggilingan, PT Sinar Makmur Komoditas. Di sini, siswa menyaksikan langsung bagaimana gabah diolah menjadi beras siap konsumsi.
”Di tempat ini, siswa melihat langsung tahapan pengolahan gabah, mulai dari proses pengeringan (dryer) hingga penggilingan menjadi beras siap konsumsi,” imbuh Husin.
Kunjungan ditutup di Gudang Bulog Sembung, Kecamatan Perak. Di lokasi ini, siswa mendapat gambaran nyata besarnya stok beras yang dikelola Bulog, baik di tingkat daerah maupun nasional.
”Ini untuk menunjukkan bahwa Bulog memang menguasai stok beras dalam jumlah besar, baik di daerah maupun secara nasional,” terangnya.
Baca Juga: Guru SMKN Mojoagung Dessy Prastianti Dewi: Generasi Pemenang Mandiri
Tak sekadar kunjungan, kegiatan ini juga membawa misi besar, mengubah cara pandang generasi muda terhadap sektor pertanian. Apalagi, pemerintah telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram.
”Harapannya adik-adik ini punya mindset bahwa petani itu bisa sukses dan sejahtera, tidak seperti anggapan selama ini,” tambahnya.
Menariknya, antusiasme siswa terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan. Suasana paling seru terjadi saat mereka berada di area persawahan. Banyak yang penasaran ingin mencoba naik mesin panen modern. ”Antusias sekali, terutama saat di sawah. Mereka ingin semuanya naik combine, tapi tentu harus bergantian,” pungkasnya. (naz)
Editor : Anggi Fridianto