Radarjombang.id - Longsor yang terjadi di jalur Kedungcinet membuat akses utama menuju sejumlah sekolah di wilayah Plandaan terputus. Akibatnya, para guru harus mencari jalur alternatif yang lebih sulit dan berisiko demi tetap menjalankan tugas mengajar.
Salah satu guru SDN Jipurapah 1, Cahyo Widodo, mengungkapkan jalur Kedungcinet selama ini menjadi akses utama yang biasa dilalui para guru. Namun sejak longsor terjadi, mereka terpaksa beralih ke jalur lain, di antaranya melalui akses Tambak atau Marmoyo.
”Kalau lewat Tambak memang lebih dekat, tapi saat musim hujan kondisinya sangat terjal, licin, dan menanjak. Apalagi kalau habis hujan dua sampai tiga hari, air dari atas masih mengalir sehingga jalannya tidak pernah benar-benar kering,” ujarnya.
Cahyo menambahkan, medan berat tersebut harus dilalui setiap hari demi bisa sampai ke sekolah tepat waktu. Ia sendiri telah mengajar sejak 2015 sebagai guru kelas 6 di SDN Jiporapah 1. Dengan jarak tempuh sekitar 42 kilometer dari rumahnya di Rejoso, Nganjuk, ia harus berangkat sejak pukul 05.30 pagi.
Tak hanya guru di SDN Jiporapah 1, kondisi serupa juga dialami tenaga pendidik di SDN Jiporapah 2, SDN Pojokklitih 2, hingga SMPN 3 Plandaan. Meski akses jalan terganggu, para guru tetap berupaya hadir demi memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan normal.
”Alhamdulillah untuk siswa tidak terlalu terdampak karena mereka tinggal di sekitar sekolah, jadi tetap bisa masuk seperti biasa. Yang terkendala memang akses guru,” imbuhnya.
Sementara itu, guru SMPN 3 Plandaan, Karsono, mengaku memilih jalur yang lebih aman meski harus memutar lebih jauh. Ia enggan melewati jalur Kedungcinet maupun Tambak karena pengalaman buruk yang pernah dialaminya.
”Saya sudah lama tidak lewat Kedungcinet, dan juga tidak memilih jalur Tambak karena pernah jatuh. Sekarang saya lewat Marmoyo, meskipun sekitar 15 menit lebih lama,” jelasnya.
Karsono mengatakan, ia harus berangkat lebih pagi dari rumahnya di Purisemanding Kecamatan Plandaan untuk mengantisipasi medan perjalanan sekaligus menyesuaikan aturan presensi wajah secara daring yang diterapkan sekolah.
”Saya biasanya berangkat jam 6, paling telat 6.15 supaya bisa sampai sekitar jam 6.45. Karena sekarang sudah dua tahunan wajib presensi wajah online,” pungkasnya. (wen)
Editor : Anggi Fridianto