RadarJombang.id – Kajian Ramadan yang digelar Pusat Studi Qur’an Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Rabu (4/3), bertema; Puasa sebagai Terapi Mental: Mengendalikan Marah, Impulsif, dan Overthinking.
Kaprodi Pascasarjana Unipdu, Dr H Nasruddin MKes, mengajak peserta menyadari tiga persoalan yang kerap dianggap sepele, yakni marah, perilaku impulsif, dan overthinking. ’’Impulsif dan overthinking itu masalah mental? Kalau sadar, itu langkah awal sehat. Kalau tidak sadar, itu yang berbahaya,’’ urainya.
Ia menegaskan, kesehatan mental memiliki tiga level. Pertama, level individu, yakni kemampuan seseorang beradaptasi dengan stresor dan menilai diri secara objektif. “Kalau kita mampu menilai diri, tahu kekurangan dan kelebihan, itu tanda sehat,” katanya.
Kedua, level keluarga. Menurut dia, keluarga berperan membentuk konsep diri positif melalui asah, asih, dan asuh. Momentum Ramadan dinilai tepat memperkuat nilai tersebut. “Ramadan menghadirkan penguatan nilai dan penguatan syukur dalam keluarga. Dari situ lahir ketahanan mental,” tuturnya.
Ketiga, level komunitas atau sosial. Ia menyebut kepuasan dan kenyamanan dalam lingkungan organisasi turut memengaruhi stabilitas emosi seseorang. Ketika seseorang mudah marah, reaktif, dan tidak puas di lingkungan sosial, kondisi itu menjadi indikator adanya persoalan yang perlu dikendalikan.
Nasruddin menjelaskan, marah merupakan respons emosional normal terhadap ancaman, baik ancaman terhadap diri, identitas, maupun kemampuan. Namun, reaksi marah yang tidak terkontrol bisa terjadi sangat cepat. “Dalam hitungan sepersekian detik, otak bisa berubah menjadi reaktif dan sulit dikontrol. Puasa melatih kita menahan sebelum reaksi itu muncul,” paparnya.
Perilaku impulsif juga menjadi perhatian dalam pembahasan kajian kemarin. Ia mencontohkan kebiasaan belanja tanpa pertimbangan saat diskon besar sebagai bentuk impulsivitas. Faktor lain yang memicu impulsif, kata dia, adalah tingginya screen time. “Paparan gawai lebih dari enam jam sehari berpengaruh pada area otak yang mengatur kontrol emosi. Akhirnya mudah reaktif,” jelasnya.
Sementara overthinking kerap dialami mahasiswa, terutama saat menyusun tugas akhir atau menghadapi tenggat waktu. Tekanan akademik dan komunikasi yang tidak lancar dengan dosen pembimbing sering memicu kecemasan berlebihan. “Kalau stres tidak terkontrol, pikiran berputar tanpa henti. Puasa melatih kita lebih tenang dan sabar menghadapi tekanan,” ungkapnya.
Ia menguraikan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sarana menyucikan jiwa serta menata emosi. “Puasa hadir untuk menata hati, menata iman, dan melatih kontrol diri. Kalau tiga hal ini terjaga, marah, impulsif, dan overthinking bisa ditekan,’’ ungkapnya. (ang/jif)
Editor : Anggi Fridianto