RadarJombang.id – Kajian Ramadan yang digelar Pusat Studi Qur’an Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Selasa (3/3), mengusung tema; Meneguhkan Kemanusiaan di Era Kecerdasan Buatan.
Pengasuh Asrama Al Falah Darul Ulum Rejoso, KH M Dzul Hilmi As’ad MPd, memaparkan lima pedoman agar tetap ikhlas dan bijak bermedia sosial.
’’Pertama, jujur dan amanah,’’ ucapnya. Ia mengingatkan agar tidak merekayasa citra diri demi terlihat sempurna. ’’Jangan sampai foto profil berbeda jauh dari kenyataan. Kejujuran itu dasar,’’ tuturnya.
Kedua, berbicara yang baik atau memilih diam. Ia mengutip pesan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam agar berkata baik atau diam. ’’Jangan membuat status yang menyakiti orang lain,’’ pesannya.
Ketiga berakhlak mulia. Ia menegaskan, Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Karena itu, etika dan kesantunan harus tetap dijaga, termasuk di ruang digital.
Keempat, menghindari ghibah, fitnah, dan namimah. Ia mengingatkan, membicarakan keburukan orang lain tetap dilarang meski hal itu benar. ’’Alquran mengibaratkan ghibah seperti memakan bangkai saudara sendiri,’’ ucapnya mengutip QS Alhujurat 12.
Kelima, menyebarkan hal-hal yang bermanfaat. Media sosial harus dimanfaatkan sebagai sarana dakwah dan penyebaran ilmu. ’’Jadikan medsos sebagai media syiar, membangun peradaban yang baik. Bukan sebaliknya,’’ urainya.
Keikhlasan berasal dari kata Arab al-ikhlas yang bermakna memurnikan. ’’Ikhlas itu murni. Seperti surat Al Ikhlas, tujuannya memurnikan ketauhidan kepada Allah Ta’ala,’’ terangnya.
Esensi keikhlasan terletak pada niat. Segala aktivitas, termasuk bermedia sosial, harus dilandasi niat yang benar. ’’Kalau niatnya baik, insya Allah hasilnya baik. Tapi kalau hanya mencari like dan popularitas, itu sudah masuk ranah riya,’’ ungkapnya.
Fenomena personal branding bukan hal baru. Sejak zaman sebelum Islam, praktik pencitraan sudah ada. Bedanya, kini media sosial mempercepat dan memperluas dampaknya. ’’Sekarang dengan internet dan gadget, personal branding makin masif. Tinggal bagaimana kita menyikapinya,’’ katanya.
Ia mengingatkan, kejayaan teknologi tidak bersifat abadi. Perkembangan zaman terus berubah. ’’Tidak ada kejayaan yang selamanya. Semua ada masanya, termasuk teknologi,’’ tegasnya.
(ang/jif)
Editor : Anggi Fridianto