RadarJombang.id – Kajian Ramadan yang digelar Pusat Studi Qur’an Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Senin (2/3), berlangsung khidmat.
Kegiatan menghadirkan Pembina Yayasan Pesantren Tinggi Darul Ulum, KH M Zainul Ibad SAg, dengan tema Syukur sebagai Kunci Kesehatan Mental dan Ketenteraman Hati.
Dalam kesempatan itu, KH Zainul menegaskan syukur tidak sekadar ucapan, tetapi rangkaian amalan yang tidak boleh dipisahkan. Ia mencontohkan sejumlah amalan dalam Alquran yang saling berkaitan.
”Di dalam Alquran ada rangkaian amalan. Kalau satu dikerjakan dan lainnya ditinggal, tidak diterima. Seperti aqimu shala wa aqimu zakat. Shalat tanpa zakat tidak diterima, zakat tanpa shalat juga tidak diterima,” terangnya.
Ia juga menyinggung perintah taat kepada Allah dan Rasul yang tidak bisa dipisahkan.
”Taat kepada Rasul tapi membelakangi Allah tidak bisa. Taat kepada Allah tapi meninggalkan sunnah juga tidak diterima,” tegasnya.
Menurut Gus Ulib sapaan akrabnya, konsep serupa berlaku pada syukur. Dalam Surah Luqman disebutkan agar manusia bersyukur kepada Allah sekaligus kepada orang tua. Syukur kepada Allah tanpa menghargai orang tua, atau sebaliknya, membuat amal menjadi sia-sia.
”Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Syukur kepada Allah tidak bersyukur kepada orang tua, amalnya sia-sia. Sebaliknya juga begitu,” katanya.
Ia menjelaskan, selama ini syukur kerap dimaknai sebatas hubungan hamba dengan Allah. Padahal, wujud syukur juga tercermin dalam sikap kepada orang tua. Tidak hanya ketika masih hidup, tetapi juga setelah wafat.
”Bentuk syukur itu kesadaran bahwa kita hidup karena orang tua. Kita dapat rezeki, ada bagian untuk orang tua. Kita punya waktu, ada perhatian untuk orang tua. Itu bentuk syukur,” jelasnya.
KH Zainul mengingatkan, keberhasilan seseorang erat kaitannya dengan ridha orang tua. Ia mengutip hadis Nabi yang menyebutkan ridha Allah bergantung pada ridha orang tua.
”Kalau kita merasa usaha tidak pernah berhasil, bisa jadi karena kurang bersyukur kepada orang tua. Allah ridha kalau orang tua ridha,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan keterkaitan syukur dan kesehatan mental. Menurut dia, penyakit kerap berawal dari hati yang tidak puas dan tidak menerima keadaan.
”Orang yang tidak bersyukur hidupnya susah. Tidak sehat. Penyakit itu banyak bersumber dari hati. Ketika kita bersyukur, hati tenang dan mental sehat,” pungkasnya. (ang/fid)
Editor : Anggi Fridianto