Radarjombang.id – Kajian Ramadan yang digelar Pusat Studi Qur’an Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Minggu (1/3), mengangkat tema; Meneguhkan Kemanusiaan di Era Kecerdasan Buatan.
Ketua Yayasan Pesantren Tinggi Darul Ulum (Yapetidu), KH M Zaimuddin Wijaya As'ad (Gus Zuem), selaku pemateri, menyampaikan pentingnya etika penggunaan kecerdasan buatan dalam kehidupan muslim.
’’Dalam Islam, ilmu tidak hanya diukur dari hasil, melainkan dari proses, niat, dan adab. Proses harus jujur. Niat harus lurus. Serta tetap menjaga etika,’’ tuturnya.
Kemudahan teknologi tidak boleh menghilangkan tanggung jawab moral.
Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan merupakan sistem teknologi yang meniru kemampuan manusia dalam berpikir, menganalisis, serta mengambil keputusan. Di dunia akademik, AI mampu menyusun teks, menganalisis data, merangkum literatur hingga memberi rekomendasi solusi.
’’Secara teknis AI adalah alat. Tapi secara etis menjadi persoalan. Karena bisa menggantikan proses berpikir manusia dan dapat dipakai menipu secara halus,’’ urainya.
Sebaliknya, AI berubah menjadi ancaman saat menghilangkan kejujuran akademik. Mematikan daya pikir. Serta mendorong sikap malas berusaha. ’’Jika dipakai jalan pintas merangkum buku tanpa proses belajar, itu masalah. Manusia tetap wajib berusaha,’’ tegasnya.
Potensi penyalahgunaan seperti manipulasi konten dan teknologi deepfake untuk menipu, maka AI tidak memikul dosa. Tanggung jawab tetap berada pada manusia sebagai pengguna.
’’AI ibarat pisau. Tidak bisa disalahkan. Yang bertanggung jawab manusia karena memiliki akal dan ilmu,’’ katanya.
Di lingkungan kampus, ia meminta mahasiswa menjaga kejujuran akademik saat memanfaatkan teknologi. Dosen juga memiliki peran membimbing etika penggunaan AI agar memberi dampak positif.
Ruang akademik, riset, penulisan skripsi, jurnal, hingga ruang dakwah menjadi area paling terdampak perkembangan AI. Karena itu, kampus berbasis pesantren harus meningkatkan kewaspadaan.
’’Pesantren bukan pabrik hasil. Pesantren tempat pembentukan karakter dan proses,’’ tandasnya.
Ia berpesan agar umat Islam menggunakan AI dengan niat lurus. Tidak menjadikannya alat menghindari usaha. Serta tetap menghadirkan kesadaran spiritual. ’’Teknologi harus dikendalikan manusia, bukan sebaliknya,’’ pesannya. (ang/jif)
Editor : Anggi Fridianto