Jumat (23/1) SMP Negeri 4 Jombang memperingati Isra Miraj sebagai momen refleksi tentang makna salat dalam kehidupan. Kalimat ’Salatlah sebelum kamu disalati’ terasa sebagai pengingat lembut namun tegas bahwa kesempatan beribadah memiliki batas waktu. Selama hidup, kita masih diberi ruang untuk rukuk dan sujud, tetapi ketika kematian datang, semua itu berakhir karena kita tidak dapat berbuat apa-apa selain berharap pada doa orang lain.
Isra Miraj mengajarkan salat bukan ibadah biasa. Dalam peristiwa inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat secara langsung dari Allah SWT tanpa perantara. Hal ini menunjukkan salat memiliki kedudukan yang sangat istimewa dan menjadi sarana utama seorang hamba untuk berkomunikasi dengan Tuhannya.
Dari peristiwa tersebut, kami memahami bahwa salat adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepada manusia. Salat sering disebut sebagai mi’rajnya orang beriman, karena melalui salat kita diajak mendekatkan diri kepada Allah, mencurahkan keluh kesah, dan menenangkan hati di tengah kesibukan hidup.
Salat juga memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari. Selain membersihkan jiwa dari dosa, salat menjadi penentu kualitas amal seseorang dan sumber ketenangan di tengah tekanan belajar, pergaulan, serta tantangan zaman yang semakin kompleks.
Budaya religius seperti salat berjamaah, doa bersama, dan peringatan hari besar Islam menjadi bagian dari kebiasaan sekolah. Pembiasaan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi latihan untuk membentuk karakter, kedisiplinan, dan kesadaran beragama dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui peringatan Isra Miraj ini, kami menyadari bahwa salat adalah hadiah dan bekal utama kehidupan. Selama tubuh masih mampu bersujud, sudah seharusnya salat dijaga dengan sungguh-sungguh, karena salat adalah bekal terbaik sebelum perjalanan terakhir dimulai.
Oleh: Restu Agung, Kelas 8A SMP Negeri 4 Jombang
Editor : Anggi Fridianto