Radarjombang.id - Sekolah jenjang SMA di Kabupaten Jombang saat ini masih dalam proses unggah data pada Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) sebagai syarat mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.
Dalam proses tersebut, mayoritas sekolah memilih mengunggah data manual daripada menggunakan e-rapor.
”Ada konsekuensi tersendiri memilih e-rapor atau manual dalam pengisian PDSS. Masih banyak sekolah yang memilih manual karena kalau pakai e-rapor ada risiko-risiko tertentu,” ujar Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang, Eko Redjo Sunariyanto kemarin, (19/1).
Sekolah dihadapkan pada pilihan menggunakan sistem e-rapor atau pengisian manual, yang masing-masing memiliki konsekuensi tersendiri.
Penggunaan e-rapor memang memberikan kemudahan, namun juga memiliki sejumlah risiko yang harus dipertimbangkan matang oleh sekolah.
Berdasarkan data dari laman resmi SNPMB.id, hingga 19 Januari tercatat di Kabupaten Jombang sebanyak 10 SMA memutuskan menggunakan e-rapor, sementara 37 SMA lainnya masih menggunakan pengisian manual.
Untuk jenjang SMK, hanya 2 SMK yang menggunakan e-rapor, sedangkan 69 SMK memilih tidak menggunakan e-rapor dalam pengisian PDSS.
Salah satu kendala yang kerap muncul, berkaitan dengan siswa mutasi. Jika sekolah tujuan sudah menggunakan e-rapor, sementara sekolah asal siswa mutasi berasal dari luar daerah yang belum menerapkan e-rapor, maka data nilai siswa tidak dapat terbaca secara otomatis.
”Anak-anak yang mutasi ini sering jadi kendala. Kalau sekolah asalnya belum pakai e-rapor, maka di sekolah tujuan datanya belum bisa masuk. Ini tentu menyulitkan banyak pihak,” jelasnya.
Meski demikian, Eko menegaskan apabila seluruh data siswa sudah aman dan lengkap di sistem e-rapor, maka penggunaan e-rapor justru jauh lebih praktis.
Bahkan, sekolah yang menggunakan e-rapor mendapatkan tambahan kuota SNBP sebesar lima persen dari kuota awal.
”Kalau semua data siswa aman di e-rapor, itu jauh lebih praktis. Ada tambahan kuota lima persen juga. Tapi kalau mau faktor kehati-hatian, memilih manual juga tidak apa-apa karena kesiapan setiap sekolah memang berbeda-beda,” pungkasnya. (wen/ang)
Editor : Anggi Fridianto