Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Mulok Keagamaan Jadi Ekstrakurikuler, Guru PAI Jombang Kecewa

Wenny Rosalina • Sabtu, 10 Januari 2026 | 09:06 WIB

 

SEMANGAT: Guru muatan lokal saat mengajar di SDN Mayangan Kecamatan Jogoroto, kemarin.
SEMANGAT: Guru muatan lokal saat mengajar di SDN Mayangan Kecamatan Jogoroto, kemarin.

Radarjombang.id – Perubahan kebijakan mata pelajaran muatan lokal (mulok) keagamaan dan diniyah yang digabung menjadi ekstrakurikuler menuai kekecewaan dari para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kabupaten Jombang.

Perubahan tersebut berdampak pada berkurangnya materi pembelajaran dan jam mengajar pembimbing. Juga berkurangnya daya tarik SD, baik negeri maupun swasta.

’’Dari segi materi kami kurang sepakat jika mulok keagamaan diganti menjadi ekstrakurikuler. Dulu materinya banyak, sekarang setelah jadi ekstra menjadi sedikit.

Jam mengajar pembimbing juga pasti berkurang karena tidak lagi diletakkan di jam intrakurikuler,’’ kata Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) Pendidikan Agama Islam (PAI) Kabupaten Jombang, Zainur Rofiq.

Dilihat dari sisi manfaat, pola lama jauh lebih dirasakan dampaknya bagi peserta didik. Namun demikian, pihaknya tetap mengikuti aturan yang berlaku secara nasional.

’’Kalau mengikuti aturan kurikulum nasional memang harus dua jam pelajaran diisi dengan bahasa daerah. Secara aturan mungkin sekarang lebih benar, tapi bagaimanapun kami kecewa dengan perubahan ini,’’ ungkapnya.

Ia menjelaskan, sebelumnya mulok di Jombang diisi dengan mulok bahasa daerah dua jam pelajaran.

Mulok keagamaan empat jam pelajaran. Serta mulok diniyah empat jam pelajaran. Total sepuluh jam pelajaran tersebut dinilai bertentangan dengan ketentuan kurikulum nasional.

Menurutnya, mulok keagamaan dan diniyah justru menjadi daya tarik utama sekolah dasar, baik negeri maupun swasta.

’’Saya tanyakan ke teman-teman kepala sekolah dan guru PAI, daya tarik SD negeri dan swasta itu ada pada mulok keagamaan dan diniyah. Ini yang membuat SD seimbang dengan madrasah,’’ jelasnya.

Meski demikian, setelah mulok keagamaan resmi menjadi kegiatan ekstrakurikuler, KKG PAI tetap berupaya menjaga penguatan karakter religius siswa. Salah satunya dengan terus menggalakkan program tahfidz Alquran dan pembiasaan keagamaan di sekolah.

’’Kami menggerakkan semua elemen. Guru-guru saya ajak setiap pergantian jam pelajaran membaca Alquran selama lima menit untuk murojaah.

Semua guru, baik guru kelas maupun guru PAI, ikut terlibat,’’ ungkap kepala SDN Watudakon Kecamatan Kesamben tersebut.

Pembiasaan tersebut disesuaikan dengan jenjang kelas. Mulai dari membaca surat-surat pendek hingga murojaah hafalan. Selain itu, dalam rapat KKG PAI, pihaknya juga mengimbau agar dengan berkurangnya jam mulok, ada sisi lain yang harus ditingkatkan.

’’Salah satunya guru PAI harus lebih getol menambah murojaah anak-anak dan jam pembiasaan keagamaan. Misalnya setelah salat Duhur, yang biasanya langsung selesai, sekarang ditambah membaca Alquran 10 sampai 15 menit,’’ tambahnya.

Imbauan tersebut saat ini masih disampaikan kepada ketua KKG PAI di tingkat kecamatan. ’’Harapan kita karakter religius siswa tetap terjaga meski jam mulok keagamaan berkurang,’’ ucapnya. (wen/jif)

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#KKG PAI #Diniyah #Dinas pendidikan dan Kebudayaan #Jombang #madin #Pemkab Jombang #Ekstrakurikuler #Mulok Keagamaan #pendidikan