Radarjombang.id – Tingginya kasus kekerasan seksual dan kehamilan tidak direncanakan di Kabupaten Jombang menjadi perhatian serius.
Sekolah dinilai memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi yang benar, ilmiah, dan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) yang diintegrasikan ke kokurikuler dipandang sebagai salah satu langkah pencegahan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Wor Windari, menegaskan pentingnya PKRS diberikan secara terstruktur.
”Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas penting diberikan kepada peserta didik secara terstruktur dan komprehensif untuk membekali remaja dengan pengetahuan, sikap, serta keterampilan yang benar dan bertanggung jawab,” jelasnya.
PKRS tidak hanya membahas aspek biologis, tetapi juga dimensi psikologis, sosial, dan emosional, termasuk pembentukan sikap, nilai moral, serta kemampuan membangun hubungan sehat. Pendidikan ini dinilai penting untuk meningkatkan kesadaran diri, hak reproduksi, mencegah perilaku berisiko, serta menanggulangi kekerasan seksual.
Hal itu dibahas dalam Forum Group Discussion (FGD) PKRS yang digelar 12–14 November 2025 di SMP Negeri 3 Peterongan. Kegiatan diikuti 272 peserta, terdiri dari 136 guru BK/BP SMP dan 136 wakil kepala sekolah bidang kurikulum se-Kabupaten Jombang.
Dalam FGD, muncul dua opsi penerapan PKRS di sekolah: sebagai mata pelajaran intrakurikuler atau diintegrasikan dalam kokurikuler.
Namun, opsi intrakurikuler dinilai sulit karena kurikulum sudah padat, membutuhkan tambahan guru pengampu, serta regulasi tidak memungkinkan penambahan mata pelajaran baru.
”Karena itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang mengambil kebijakan mengintegrasikan PKRS ke dalam tema pembelajaran kokurikuler. Opsi ini dinilai paling memungkinkan dan tidak menimbulkan kendala berarti,” jelas Wor Windari.
Hasil FGD ditargetkan mulai diimplementasikan pada pembelajaran kokurikuler Semester Genap Tahun Ajaran 2025/2026. Dengan begitu, pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas dapat diterapkan lebih masif dan berkelanjutan di sekolah-sekolah Jombang. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto