Radarjombang.id – SMPN 1 Wonosalam berkomitmen mencetak generasi beradab serta berkepribadian positif. Guna mewujudkannya, sekolah membekali para siswa dengan berbagai kegiatan kokurikuler sesuai lingkungan sekolah.
’’Kegiatan kokurikuler bukan sekadar pelengkap pembelajaran, tetapi merupakan ruang penting bagi tumbuhnya karakter, kreativitas, dan kolaborasi yang menjadi pondasi pendidikan abad ke-21,’’ kata Kepala SMPN 1 Wonosalam Heni Wahyudi MPd, kemarin.
Perpaduan kondisi topografi wilayah di lereng pegunungan Anjasmara. Serta kultur budaya yang masih sangat kental di masyarakat, sangat berpengaruh pada kepribadi para siswa di sekolah. Sehingga dibutuhkan beragam kebijakan serta perhatian khusus guna memaksimalkan potensi dan bakat para siswa agar tepat sasaran.
Kegiatan kokurikuler hadir sebagai kegiatan yang dimaksudkan untuk lebih memperdalam dan menghayati materi pelajaran yang telah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler di dalam kelas. Kegiatan ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok, bersifat fleksibel dan kontekstual.
Kokurikuler di SMPN I Wonosalam dilaksanakan dengan dua cara. Pertama, Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH). Melalui pembiasaan positif secara rutin, konsisten dan terencana. Kebiasaan tersebut meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat serta tidur cepat.
Kedua, pengembangan kearifan lokal pada satuan pendidikan. Melalui pengembangan potensi yang ada di satuan pendidikan.
Kokurikuler dilaksanakan dengan memberikan projek dan pembelajaran tentang pertanian. Proyek dilaksanakan dengan memanfaatkan lahan sekolah yang cukup luas untuk menanam tanaman produktif. Harapannya, para siswa akan memiliki pengetahuan serta dapat memanfaatkan alam di sekitar tempat tinggalnya.
’’Kegiatan kokurikuler bertujuan untuk mendukung tercapainya delapan dimensi lulusan secara nyata dan kontekstual melalui pengalaman belajar yang bermakna,’’ terangnya.
Delapan profil lulusan meliputi keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
Delapan profil lulusan merupakan hasil dari capaian pengetahuan, keterampilan dan karakter. Serta menumbuhkembangkan lulusan yang memiliki kepemimpinan efektif, berintegritas, profesional dan transformatif.
’’Melalui kegiatan ini, kita dapat menyaksikan bagaimana semangat belajar tidak hanya terpaku di dalam kelas. Tetapi juga hidup dalam praktik nyata, kerja tim, dan keberanian tampil. Serta ketekunan menyelesaikan tantangan,’’ tegas Heni. Inilah wujud pendidikan yang menyeluruh, tidak hanya mencerdaskan, namun juga menguatkan hati dan membentuk jiwa. (dwi/jif)
Editor : Anggi Fridianto