Radarjombang.id - Kesibukan di asrama tidak pernah menjadi penghalang bagi Deitsna Fatkha Rahmadina untuk meraih prestasi.
Santri kelas 12 PK 2 MAN PK MAN 4 Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang ini justru menjadikan rutinitas padat di pondok sebagai bekal dalam membangun cita-cita besarnya, yaitu menjadi seorang dosen di bidang pendidikan agama Islam (PAI) atau dakwah.
Di Asrama Hasbullah Said, tempat ia tinggal, setiap santri diwajibkan mengikuti berbagai program.
Salah satunya adalah program tahfidz. Deitsna bahkan lolos seleksi masuk kelas privat tahfidz karena kemampuannya menghafal cepat.
”Alhamdulillah sekarang saya sudah hafal 14 juz, targetnya bisa mencapai 15 juz,” ucap gadis kelahiran Bojonegoro, 8 Desember 2007 itu.
Selain menghafal Alquran, Deitsna juga aktif mengikuti program bahasa dan kajian kitab. Baginya, kegiatan pondok yang padat justru selaras dengan minat akademiknya.
”Di pondok banyak latihan muhadharah, pidato, juga ada diskusi syawir yang membahas Fikih dan Akidah. Dari situ saya semakin tertarik mendalami PAI, lalu dikembangkan lagi dalam bentuk karya tulis ilmiah,” tuturnya.
Ketertarikan itu semakin kuat setelah ia sukses meraih Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat nasional di Surabaya.
Dari pengalaman menulis dan penelitian tersebut, lahir keinginan baru dalam dirinya.
”Saya ingin jadi dosen, bisa menerbitkan jurnal-jurnal ilmiah, melanjutkan penelitian, dan mengabdikan diri di bidang agama,” tegas putri pasangan Ghufron dan Nurul Zubaidah ini.
Untuk mewujudkan cita-citanya, Deitsna berencana melanjutkan kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN).
Baginya, menjadi dosen bukan sekadar profesi, melainkan jalan dakwah dan cara berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan Islam. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto