Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Warga di Jombang Ukur Jarak Rumah ke Sekolah Pakai Meteran, Buntut Kecewa Usai Ditolak SPMB Padahal Jarak Rumah Hanya 100 Meter

Wenny Rosalina • Rabu, 9 Juli 2025 | 14:47 WIB
PROTES: Agus Fernandi melakukan pengukuran manual dari rumah ke sekolah menggunakan meteran, Selasa (8/7).
PROTES: Agus Fernandi melakukan pengukuran manual dari rumah ke sekolah menggunakan meteran, Selasa (8/7).

Radarjombang.id - Tak puas dengan hasil sistem penerimaan murid baru (SPMB), wali murid di Kelurahan Kepanjen di Jombang mengukur secara manual jarak rumah ke SDN Kepanjen 2 Jombang.

 Ia berharap, ada evaluasi perubahan juknis yang lebih adil untuk masyarakat yang tinggal di sekitar sekolah.

’’Saya melakukan pengukuran karena ingin tahu jarak riil antara rumah dengan SDN Kepanjen 2,’’ kata Agus Fernandie, salah satu wali murid sekaligus ketua RW 7 Kelurahan Kepanjen, Selasa (8/7).

Ia mengaku tak terima karena cucunya yang berusia 6 tahun 8 bulan dan sudah lulus TK B tidak diterima di SDN Kepanjen 2. 

Padahal, jarak sekolah hanya 108 meter dari rumahnya dan menjadi sekolah yang terdekat dengan kediamannya.

’’Prinsipnya domisili kan mendekatkan satuan pendidikan dengan siswa, dimana diberikan kuota 70 persen,’’ ucapnya.

Namun, justru ada dua hingga tiga warga Kepanjen yang tidak diterima di SDN Kepanjen 2 hanya karena usia.

Jusru warga dari kecamatan lain yang mendaftar ke SDN Kepanjen 2 banyak yang diterima.

’’Ada yang rumahnya 4 hinga 5 kilometer bahkan 10 kilometer juga masuk, sedangkan nama SDN Kepanjen 2 saja kan harusnya untuk warga Kepanjen. Tapi ini justru warga Kepanjen tidak terakomodir,’’ keluhnya.

Hartono, salah satu tokoh masyarakat Kepanjen menduga jika SPMB di SDN Kepanjen 2 Jombang sarat permainan dan titipan dari sejumlah pihak.

Bahkan komite sekolah juga diduga terlibat dalam praktik itu.

’’Ada dugaan titipan dari para ASN, kita duga ada komite yang bermain, jika lewat komite bisa lolos,’’ tambahnya.

Ia berharap, keluhan dari masyarakat yang tidak terakomodir di satuan terdekat dengan rumahnya dapat menjadi acuan bagi Dinas P dan K Jombang untuk menentukan kebijakan pada SPMB tahun depan.

Sementara itu, upaya konfirmasi yang dilakukan ke SDN Kepanjen 2 Jombang tidak membuahkan hasil.

Kepala SDN Kepanjen 2 Jombang, Saida Setyarini, enggan memberikan komentar saat ditemui di sekolah, dia menyatakan tidak mau memberi komentar.

Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang, Rhendra Kusuma, mengatakan, dalam SPMB SD sudah diatur bagaimana penghitungan usia dan jarak rumah.

Usia memiliki skor 60 persen sedangkan jarak rumah memiliki bobot 40 persen.

”Jumlahnya sudah diatur dalam juknis,” jelasnya.

Sementara itu, dugaan adanya permainan hingga membawa nama komite di SDN Kepanjen 2 Jombang yang disampaikan Agus juga sudah diklarifikasi langsung oleh Plh Kepala Dinas P dan K Jombang, Wor Windari, dan menyatakan itu tidak benar.

’’Terkait hal itu, bu Plh sudah melakukan klarifikasi kepada SDN Kepanjen 2 Jombang, dan semuanya dinyatakan tidak benar,’’ tegasnya. (wen/jif/ang) 

Editor : Anggi Fridianto
#spmb #protes #Jombang #SDN Kepanjen 2