Oleh: Fitriah Makkawi, M.Pd Guru MIN 1 Jombang
Radarjombang.id - Minat membaca di kalangan generasi muda saat ini menghadapi tantangan serius, terutama dengan pesatnya perkembangan budaya gadged alias gawai. Berbagai upaya telah diinisiasi untuk menumbuhkan kembali budaya membaca, namun tantangan dari popularitas gadget atau gawai ini tampaknya masih dominan.
Dalam menghadapi kondisi ini, sebuah langkah strategis kembali diperjuangkan melalui implementasi ujian akhir semester. Kebijakan ini mengintegrasikan stimulus membaca ke dalam soal ujian dengan harapan peserta didik akan terbiasa membaca secara aktif. Meskipun terkesan sebagai "pemaksaan" yang positif, strategi ini memiliki potensi besar. Tanpa membaca dengan saksama, peserta didik berisiko menjawab soal dengan keliru, yang secara langsung dapat memengaruhi hasil penilaian mereka.
Kebijakan pembuatan soal Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) untuk setiap madrasah disambut baik dan didukung sepenuhnya oleh penulis. Meskipun demikian, disadari bahwa tugas ini mungkin memerlukan alokasi waktu yang signifikan bagi para guru. Namun, menimbang dampak positif yang akan dihasilkan, setiap guru, tanpa terkecuali, termotivasi untuk terus mengembangkan kompetensinya dalam penyusunan soal.
Sebagai contoh konkret, MIN 1 Jombang, tempat penulis mengabdi, telah mengambil langkah proaktif dengan menyelenggarakan pelatihan intensif selama dua hari bagi seluruh tenaga pendidik. Langkah ini sejalan dengan program penilaian kompetensi yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat KSKK Madrasah, yaitu Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI).
AKMI bertujuan untuk mengukur kemampuan dasar siswa madrasah di seluruh Indonesia dalam empat bidang utama: literasi membaca, literasi numerasi, literasi sains, dan literasi sosial-budaya. Kini, menjelang pelaksanaan Asesmen Akhir Semester, para guru di madrasah tersebut telah siap untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dengan menyusun soal-soal yang memiliki daya stimulus serupa dengan AKMI.
Keuntungan dari implementasi soal AKMI ini sangatlah beragam. Pertama, anak-anak akan mulai mengembangkan kegemaran membaca sebagai kebutuhan untuk memahami soal. Kedua, mereka akan terlatih untuk lebih teliti dalam menganalisis setiap pertanyaan sebelum memberikan jawaban. Lebih jauh lagi, nilai akademik anak-anak berpotensi meningkat karena stimulus yang terdapat dalam soal sebenarnya telah memuat informasi yang mengarah pada jawaban yang benar.
Dengan demikian, mari kita bersama-sama membudayakan membaca sebagai langkah krusial untuk meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan dan mewujudkan generasi penerus bangsa yang berpikiran cemerlang.
Editor : Anggi Fridianto