Radarjombang.id - Sekolah penggerak resmi dihapus per 18 Maret 2025.
Kepala sekolah belum mendapatkan kejelasan terkait teknis selanjutnya.
Program-program lama masih berjalan sampai tahun pelajaran baru.
’’Kami baru mengetahui SK pencabutan saja, belum tentang bagaimana sosialisasi lebih lanjut dari dinas,’’ kata Kepala SMPN 2 Ngoro, Wiwik Astutik, salah satu sekolah penggerak angkatan 2, kemarin.
Di Jombang ada dua angkatan sekolah penggerak. Angkatan kedua dan ketiga.
Angkatan kedua kini memasuki tahun keempat, dan angkatan ketiga memasuki tahun ketiga.
Penghapusan program sekolah penggerak disampaikan melalui Keputusan Mendikdasmen nomor 14/M/2025 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia nomor 371/M/2021 tentang Program Sekolah Penggerak.
Dalam keputusan itu juga disampaikan, seluruh pelaksanaan program pendidikan akibat pencabutan keputusan itu harus disesuaikan dengan program prioritas Kemendikdasmen.
Wiwik sendiri belum melakukan perubahan apapun atas program yang telah disusun sejak tahun lalu. Utamanya gelar karya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) juga telah dilaksanakan sebelum Ramadan.
’’Kami laksanakan sebelum Ramadan, sedangkan surat turun pas Ramadan,’’ jelasnya.
Begitu pula saat ini, pihaknya belum melakukan perubahan apapun.
Ia menunggu tahun pelajaran baru, sebab banyak program juga masih berkaitan satu sama lain.
’’Dari Dinas juga belum ada sosialisasi, jadi saya tetap menjalankan program yang lama, tidak berani mengubah sebelum ada sosialisasi dinas,’’ urainya.
Dia siap mengikuti perubahan. Namun hal itu dilakukan bertahap, karena ada sejumlah program yang masih berkaitan, seperti komunitas belajar, juga praktik baik.
Sementara itu, Plh Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang sekaligus Kabid Pembinaan Ketenagaan, Abdul Majid, mengatakan, penghapusan program sekolah penggerak dilakukan untuk efektifitas dan efisiensi.
’’Kalau saya cermati kok hanya SK yang angkatan kedua, sedangkan angkatan ketiga kan masih berjalan sekarang,’’ ungkapnya.
Saat itu, program sekolah penggerak dijadikan pilot project untuk menerapkan kurikulum baru, yaitu kurikulum merdeka.
Namun setelah berjalan beberapa tahun terakhir, pihaknya belum merasakan hasil yang signifikan.
’’Saya gak tau persis sampai mana sekolah penggerak memberikan imbas best practice-nya secara masif, sepertinya tidak terlalu tampak,’’ ucapnya.
Ia juga mengaku belum menerima penjelasan lebih lanjut soal teknis setelah penghapusan program tersebut.
’’Kami belum menerima penjelasan lebih lanjut soal itu,’’ ujarnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto