Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Homeschooling di Jombang Makin Diminati, Alternatif Sekolah yang Lebih Fleksibel

Wenny Rosalina • Selasa, 17 September 2024 | 15:42 WIB
MERDEKA BELAJAR: Salah satu siswa homeschooling PKBM Hayala, Jombang saat menjalani kegiatan di rumahnya.
MERDEKA BELAJAR: Salah satu siswa homeschooling PKBM Hayala, Jombang saat menjalani kegiatan di rumahnya.

RadarJombang.id Home schooling (sekolah rumah) masih menjadi alternatif, bagi siswa yang ingin belajar dengan waktu yang lebih fleksibel.

Penyelenggaranya, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).

’’Lembaga yang menangani khusus home schooling belum ada, aturan pusat tentang homeschooling juga belum ada. Jadi pembelajarannya home schooling, tapi administrasinya ikut PKBM,’’ kata Plh kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Wor Windari.

Kegiatan belajarnya ditentukan sendiri sesuai dengan kesepakatan.

Baik tentang jadwal belajar, hingga menu belajar yang harus dipelajari.

Rata-rata siswa yang memilih home schooling karena menginginkan kegiatan belajar yang waktunya lebih fleksibel.

Serta materi belajar yang diambil juga fleksibel.

’’Ada yang mulai SD sudah home schooling, ada yang sejak SMP home schooling,’’ terangnya.

Setelah lulus home schooling, siswa mendapatkan ijazah kesetaraan. Paket A setara SD, paket B setara SMP dan paket C setara SMA.

’’Ijazahnya juga bisa dipakai untuk mendaftar ke jenjang pendidikan formal,’’ bebernya.

Sementara itu, Founder PKBM Hayala, Salis Mustaqim, mengatakan, ada 11 siswa yang menjalani home schooling.

Baca Juga: Tekan Stunting, Pemdes Bandung Diwek Jombang Gelar Sekolah Orang Tua Hebat

Delapan di antaranya merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK) dan tiga lainnya non ABK.

’’Yang ABK, orang tuanya ingin menangani sendiri dari rumah,’’ katanya.

Sementara yang non ABK ingin mendapatkan kemerdekaan belajar yang sesungguhnya.

Sebab, home schooling yang masuk dalam kategori pendidikan keluarga memiliki konsep yang berbeda-beda antar individu.

Setiap keluarga bisa menyusun kurikulumnya sendiri, sesuai dengan minat masing-masing siswa.

’’Belajar di home schooling sangat fleksibal dalam proses belajar,’’ jelasnya.

Tiga siswa non ABK yang mengikuti home schooling merupakan putra putrinya sendiri.

Mereka memiliki bakat dan minatnya masing-masing.

Yang pertama kini setara kelas 9 SMP atau paket B. Dia tertarik di bidang multimedia seperti fotografi, videografi, teknik hardware maupun software.

Dia memilih home schooling sejak masuk kelas 4 SD.

’’Dulu sempat sekolah formal. Lalu memutuskan home schooling karena kami sebagai orang tua menyadari selama, di sekolah formal, mereka belum mengenal dirinya sendiri. Sehingga kami arahkan ke home schooling. Kebetulan anak teman juga ada yang ikut home schooling. Karena merasa nyaman, dia memutuskan sendiri untuk home schooling,’’ paparnya.

Anak kedua mulai home schooling kelas 2 SD. Sedangkan anak ketiga tidak pernah merasakan sekolah formal.

’’Anak kedua minat pada kegiatan mengajar, jadi kami libatkan dalam kegiatan belajar siswa PAUD ABK. Dia sekarang setara kelas 6 SD, dan sudah bisa mengelola kelas kelompok bermain,’’ urainya.

Siswa home schooling juga dapat menentukan sendiri, kapan harus ikut pelatihan, kapan harus memanggil tutor, kapan harus kursus untuk mengembangkan bakatnya.

’’Mereka betul-betul mendapatkan kebebasan dalam belajar, dan mereka tetap dapat ijazah pendidikan kesetaraan, sehingga kapanpun mereka ingin melanjutkan ke sekolah formal masih bisa dipakai,” pungkasnya. (wen/jif)

Editor : Achmad RW