RadarJombang.id – Bangunan SDN Madiopuro, Kecamatan Sumobito Jombang kini tengah direhab oleh Pemkab Jombang.
Selama sekolah direhab, siswa SDN Madiopuro harus belajar di gedung TPQ.
Ada tiga kelas SDN Madiopuro yang harus belajar di luar sekolah, karena kelasnya dipakai untuk kantor sementara.
’’Pembelajaran tetap berlangsung, tidak terganggu sama sekali, hanya pindah tempat saja. Ekstrakurikuler juga masih tetap jalan,’’ kata Kepala SDN Madiopuro, Umi Latifah, kemarin.
SDN Madiopuro memiliki enam ruang kelas, satu kantor guru, dan satu ruang perpustakaan.
Rehab di SDN Madiopuro itu, dilaksanakan dengan dana alokasi khusus (DAK) senilai Rp 557 juta dikerjakan CV Tera Karya mulai Juli lalu.
Ada tiga titik yang direhab. Dua ruang kelas dan satu kantor guru plus kepala sekolah.
Dua ruang kelas diperbaiki, dan satu kantor dibangun dua lantai.
Bagian bawah nantinya difungsikan sebagai ruang kelas atau ruang guru.
Sedangkan lantai dua digunakan untuk UKS dan laboratorium komputer.
’’Sebetulnya yang bawah itu untuk ruang kelas, tapi karena di sana juga sudah ada dapur, kamar mandi dan tempat salat, kayaknya nanti dipakai untuk kantor. Karena penggunaannya memang diserahkan ke sekolah,’’ terangnya.
Baca Juga: Ada Indikasi Pemotongan Proyek PL Rehab SMP Negeri di Jombang, FRMJ Minta APH Bergerak
Selama pengerjaan rehab, kantor guru untuk sementara pindah ke ruang kelas 5 dan kelas 6.
Sedangkan kelas 4 dan kelas 3 tetap di kelasnya. Kelas 1 dipindah sementara ke ruang perpustakaan.
Kelas 2, kelas 5, dan kelas 6 dipindahkan ke TPQ Al Ilmi, Dusun Talunlor, Desa Madiopuro. Jaraknya tak jauh, kurang lebih 500 meter dari sekolah.
Tiga rombel yang diboyong, dipilih yang jumlah siswanya tak terlalu banyak. Sebab ruang TPQ tidak sebesar ruang kelas.
Apalagi hanya ada tiga lokal. Satu lokal yang sedikit lebih besar diberi sekat difungsikan untuk ruang guru.
SDN Madiopuro terakhir mendapatkan rehab gedung 2022. Pagu saat itu Rp 170 juta untuk dua ruang.
Hanya saja, saat itu Umi menolak karena ruangan yang lain juga butuh perbaikan segera.
’’Anggaran segitu untuk mengerjakan seluruh ruang, dengan risiko tidak termasuk biaya instalasi listrik, pengecatan dan plafon. Saya tidak apa-apa, yang penting bangunannya aman dulu," ungkapnya.
Dan benar saja, setelah dibongkar, kayu belandar yang gede-gede itu sudah lapuk banget.
"Untung tidak ambruk dan membahayakan anak-anak,’’ paparnya.
Umi mengajukan bantuan rehab setiap tahun. Bahkan setelah mendapatkan rehab 2022, ia kembali mengajukan lagi untuk rehab penambahan plafon dan penggantian jendela yang juga sudah lapuk.
’’Dapat atau tidak, saya mengajukan terus, alhamdulillah tahun ini dapat, dan saya lihat pengerjaannya juga cepat dan rapi,’’ urainya. (wen/jif/riz)
Editor : Achmad RW