RadarJombang.id - Rencana memecahkan rekor MURI jaranan dor yang melibatkan ribuan siswa SD dan SMP di Jombang kembali menuai sorotan.
Kebijakan ini, dinilai praktisi pendidikan tidak jelas arah dan dampaknya bagi siswa.
Terlebih, selama berbulan-bulan waktu belajar siswa tersita hanya untuk berlatih jaranan setiap hari.
”Sebetulnya kami mendukung, sepanjang tidak memberatkan sekolah, siswa dan walimurid, tapi kenyataannya di lapangan kan pada keberatan,” ungkap Sudarmadji salah seorang praktisi pendidikan di Jombang.
Seharusnya, hal mendesak yang dilakukan dinas sekarang adalah lebih mengarah pada perubahan nilai sikap.
Ia menyebut, perencanaan MURI jaranan dor asal-asalan.
Kebijakan itu tiba-tiba diadakan langsung untuk memecahkan rekor MURI.
Padahal di sekolah-sekolah, tidak semua siswa belajar jaranan dor.
”Idealnya perencanaan harus melibatkan semua pihak termasuk organisasi profesi seperti PGRI, Dewan Pendidikan dan lain sebagainya, kemudian guru, budayawan,” ungkapnya.
Seharusnya, kata mantan Ketua PGRI Jawa Timur ini, kegiatan yang dilaksanakan Dinas Pendidikan itu jelas mulai perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta tindak lanjut ke depannya seperti apa.
”Kalau setelah gebyar selesai, lalu dampaknya apa, tindak lanjutnya apa,” sebut dia.
Sehingga yang paling penting adalah dampaknya kepada siswa.
”Karena yang kita garap ini manusia,” jelasnya.
Sudarmaji mengingatkan, jika pendidikan harus dapat mengubah nilai sikap, menambah pengetahuan dan ketrampilan siswa.
”Kalau saya lebih baik pendidikan fokus kepada nilai sikap siswa, sopan santun, adabnya, itu yang harus digencarkan,” tegasnya.
Sementara itu, Senen Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang, menyampaikan jaranan dor jadi acara tahunan yang sudah direncanakan, tidak berhubungan dengan situasi politik di Jombang.
”Kami juga menentukan waktunya bukan karena mendekati masa pilkada, tapi melihat hari jadi Pemkab Jombang,” katanya.
Ia membantah jika jaranan dor merupakan event yang mengandung unsur politik.
Dalam pandangannya, jaranan dor adalah upaya untuk menyelamatkan warisan budaya tak benda (WBTB).
”Ini murni untuk pelestarian budaya, tidak ada unsur politik,” sebut Senen.
Saat disinggung tindaklanjut yang akan dilakukan usai kegiatan nanti, ia bakal memperlakukan tari jaranan dor sama seperti tari remo boletan.
Dengan menampilkan tari jaranan dor ketika ada event-event tertentu.
”Kita tampilkan ketika ada event, karena jaranan dor adalah khas Jombang,” pungkasnya. (wen/bin/riz)
Editor : Achmad RW