RadarJombang.id - Gegara rencana Pemkab Jombang berburu Rekor MURI Jaranan Dor, banyak orang tua yang kelimpungan mencari properti jaranan.
Hal ini dilakukan dengan terpaksa karena si anak mulai menangis dan enggan sekolah jika tidak dibelikan jaranan.
Bahkan, tak jarang orang tua harus berburu jaranan hingga ke luar kota dengan biaya yang tak sedikit.
Beberapa orang tua, bahkan rela jaranan sampai Nganjuk karena di Jombang sudah habis.
”Kemarin saya sudah cari keliling Jombang, habis semua,” kata R salah satu orang tua siswa.
Memiliki dua anak di jenjang SD, dua-duanya diharuskan mengikuti pemecahan rekor MURI jaranan dor.
Anak pertama duduk di bangku kelas 5 dan anak kedua duduk di bangku kelas 1.
”Sebetulnya dari sekolah membolehkan bikin sendiri, pakai kardus atau pakai tongkat saja, tapi namanya anak ya lihat temannya pakai jaranan beneran, ya pasti minta,” keluhnya.
Karena itu dia berkeliling di Jombang, mulai Pasar Citra Niaga, Pasar Cukir, toko-toko mainan, hingga ke pusat kesenian.
Namun properti jaranan dor tidak didapatkan.
Ia baru mendapatkan di Nganjuk, itupun dengan harga tinggi, mencapai Rp 100 ribu untuk ukuran besar dan Rp 40 ribu untuk ukuran kecil.
Menurutnya, pemecahan rekor MURI jaranan dor membuat repot semua orang.
”Bahkan saat saya belanja ke toko. Banyak ibu-ibu sambatan harga jaranan mahal mengurangi jatah belanja. Padahal masih ada kebutuhan lain,” jelasnya.
Dua jaranan yang dibelinya dengan harga Rp 140 ribu itu pasti tak bertahan lama.
Sebab sekarang masih persiapan, dan baru digunakan pada Oktober nanti.
”Namanya anak-anak, kalau dipakai terus pasti ya rusak, paling nanti mendekati hari H juga beli lagi, padahal masih banyak kebutuhan yang lain,” bebernya.
Hal sama juga diungkapkan I, orang tua siswa lainnya yang menganggap konsep yang dipikirkan dinas tidak berpihak pada bakat dan minat anak.
Sebab menurutnya, tak semua anak berminat pada bidang seni tari.
Apalagi properti yang digunakan juga sangat memberatkan masyarakat.
”Kalau anaknya minat pada bidang yang lain tapi dipaksa untuk suka dengan seni bagaimana, akhirnya mereka belajar dengan keterpaksaan,” keluhnya.
Jika memang mau melestarikan budaya, sudah ada sendiri wadah, yaitu melalui program ekstrakurikuler.
Terlebih, properti yang digunakan menjadi beban siswa. Memang sekolah tidak mewajibkan beli, tapi juga tidak mewajibkan membuat.
Sehingga hal ini berdampak pada psikologis siswa jika jaranan yang digunakan tidak sama seperti teman-temannya.
Baca Juga: Tumpeng Ikan Raksasa dari DKPP Jombang Diapresiasi Bupati dan MURI
”Kalau niat MURI ya harusnya semua dilengkapi, tidak beli sendiri-sendiri,” tegasnya dengan nada tinggi.
Sementara itu, rencana berburu rekor MURI jaranan dor hanya sepihak.
Semua kepala sekolah mengaku belum diajak bicara terkait hal ini.
”Undangan resmi yang saya terima hanya diminta mengirimkan satu guru berkompeten di bidangnya untuk workshop dan lokakarya jaranan dor,” jelas salah satu kepala sekolah.
Sehingga, kepala sekolah tak tahu menahu bagaimana seharusnya, termasuk mewajibkan siswa untuk membuat sendiri.
Informasi itu tidak diterima langsung, tapi melalui guru yang ikut workshop.
”Secara langsung, kepala sekolah belum menerima informasi tentang jaranan dor, jadi yang mendapatkan info langsung guru,” pungkasnya. (wen/bin/riz)
Editor : Achmad RW