RadarJombang.id – Rencana Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang memecahkan rekor Muri jaranan dor, jadi rasan-rasan banyak guru.
Hal itu karena kebijakan memburu Rekor Muri itu dinilai kebijakan sepihak yang diambil seenaknya.
Rencana itu juga dianggap tak pernah melibatkan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) Seni Budaya maupun wilker pendidikan kecamatan.
Padahal, siswa yang akan jadi objek memburu rekor Muri itu harus setiap hari latihan di sekolah.
”Sebagai pembina kami belum menerima undangan perencanaan rekor Muri jaranan dor. Kami hanya diundang untuk mengikuti workshop, dan di sana semua guru seni budaya terlibat,” ungkap Sugeng Hariyanto, pembina MGMP Seni Budaya SMP Kabupaten Jombang.
Pihaknya mengaku tidak dilibatkan dalam perencanaan pecah rekor Muri jaranan dor.
Undangan baru diterima pihak sekolah, ketika Dinas Pendidikan dan Kebudayaan meminta sekolah mengirimkan guru untuk mengikuti workshop jaranan dor.
Karena bersifat perintah, maka ia kemudian mendelegasikan guru seni budaya untuk mengikuti workshop tersebut.
”Ya setelah dapat undangan workshop itu, kami baru kumpul, dan meneruskan perintah untuk mempersiapkan siswa di setiap sekolah,” jelasnya.
Di SMPN 1 Sumobito sendiri, persiapan dilakukan dengan melatih siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler tari.
Baca Juga: Sajian 15.000 Porsi Sego Kikil Antarkan Jombang Kembali Raih Rekor MURI
Jika sudah bisa, maka siswa akan mengajarkan kepada siswa yang lain.
"Untuk persiapannya tidak bisa yang langsung banyak siswa, kami latihan dalam lingkup kecil dulu untuk anak-anak yang gabung di ekstrakurikuler tari," jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Wilker Pendidikan Kecamatan Jombang, Wahib, menyampaikan hal sama jika dalam perencanaan pecah rekor muri juga tak melibatkan wilker kecamatan.
Ia justru baru tahu ketika sekolah-sekolah mulai mengadakan latihan.
”Kalau saya belum pernah mendapatkan undangan hal itu, belum diajak omong-omongan,” ungkapnya.
Rekor Muri kebudayaan menurutnya tetap bernilai positif dan negatif.
Nilai plusnya, siswa bisa mengenal seni budaya Jombang, termasuk mengenal jenis-jenis tari.
Namun di balik rekor muri juga terdapat sisi negatif yang pasti dirasakan semua siswa dan sekolah.
”Ya negatifnya mungkin waktu yang perlu ditata, mengenal dan menghafal tari butuh latihan, otomatis mengganggu jam belajar, harus tertata baik sehingga tidak mengurangi jam pembelajaran yang lain,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Senen Kepala Dinas P dan K Jombang tak menampik bila dalam perencanaan percah Muri jaranan dor memang tidak melibatkan MGMP Seni Budaya maupun kepala sekolah begitu juga wilker pendidikan kecamatan.
”Ya, memang tidak dilibatkan, karena yang memahami kesenian jaranan ya kelompok jaranan itu sendiri,” ucapnya.
Rencananya, rekor muri ini akan melibatkan 50.000 hingga 100.000 siswa SD dan SMP negeri se-Jombang.
Baca Juga: 100.113 Pelajar dan Warga di Jombang Sukses Pecahkan Tiga Rekor MURI
Perencanaan dilakukan Dinas P dan K bersama dengan beberapa kelompok seniman jaranan.
Mematangkan gaya, hingga gerak, baru kemudian guru diberikan workshop untuk mengimbaskan hal tersebut kepada siswa.
Pecah rekor muri ini bakal dilaksanakan Oktober mendatang. (wen/bin/riz)
Editor : Achmad RW