Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Perjuangan Pak Guru Yanto, Tempuh 15 Kilometer dari Lamongan untuk Mengajar SD Negeri Terpencil di Jombang

Wenny Rosalina • Sabtu, 25 November 2023 | 14:20 WIB
Suyanto Dwi Atmojo saat mengajar di kelas 5 SDN Sumberaji 2 Kecamatan Kabuh, Kamis (23/11).
Suyanto Dwi Atmojo saat mengajar di kelas 5 SDN Sumberaji 2 Kecamatan Kabuh, Kamis (23/11).

JOMBANG – Setiap hari, Suyanto Dwi Atmojo, harus menempuh jarak 15 kilometer untuk mengajar di SDN Sumberaji 2 Kecamatan Kabuh Jombang.

Kala hujan, jalanan menuju sekolah di wilayah terpencil di Jombang itu penuh lumpur, sementara saat kemarau kondisinya penuh debu.

’’Sekarang jalannya lebih bagus. Yang masih rusak hanya sekitar dua kilometer,’’ kata guru kelas 5 SDN Sumberaji 2 yang akrab disapa Yanto ini.

Rumah Yanto, sebenarnya berada di Kecamatan Sukorame Kabupaten Lamongan.

Ia sendiri sudah 16 tahun mengajar di SDN Sumberaji 2 Kabuh, atau  sejak 2007 lalu.

Jarak dari rumah ke sekolah, kurang lebih 15 kilometer.

Dengan jarak sejauh itu, untuk sampai ke sekolah paling tidak ia membutuhkan waktu 1,5 jam menggunakan sepeda motor.

Lulus PGSD dari Univestias PGRI Malang 2007, ia mencoba mencari tempat mengajar.

Ia mendengar, ada sekolah di Sumberaji yang sedang mencari guru. Saat itu, hanya ada kepala sekolah dan guru PAI saja.

"Guru kelas waktu itu tidak ada sama sekali," imbuhnya.

Panggilan hati, membuatnya yakin untuk mengisi kekosongan itu.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Ide Kado untuk Guru di Momen Hari Guru Nasional, Dijamin Murah ddan Berkesan

Selama dua tahun, ia berangkat sendirian dari rumah ke sekolah. Saat kemarau berdebu, kala musim hujan berlumpur. ’’Suering jatuh terpeleset,’’ ucapnya.

Mulai 2009, ia punya teman yang penempatan di SDN Sumberaji 2.

Sejak saat itu, ia punya teman bekerjasama. Saling dorong ketika motor yang dinaikinya terjerembab.

’’Surung-surungan kalau pas musim hujan, karena jalannya becek,’’ tambahnya.

Di dalam tasnya tidak hanya ada buku untuk bahan ajar. Tapi juga sepatu, dan baju ganti.

Baju ganti itu disiapkan jika bajunya kotor karena terkena lumpur saat perjalanan.

’’Setiap hari setelah pulang mengajar, saya selalu mencuci motor. Apalagi kalau musim hujan,’’ jelas pria kelahiran Lamongan 18 Juli 1983 tersebut.

Saat ini kondisinya lebih baik, jalanan tidak lagi separah dulu. Hanya kurang lebih dua kilometer saja yang masih belum bagus.

Selama 15 tahun menjadi guru honorer, gajinya pas-pasan. Ditambah tunjangan SD Rp 150 ribu.

’’Dibilang cukup ya dicukup-cukupkan,’’ ungkapnya. Ia mencari penghasilan tambahan menjadi petani.

Pada 2021, ketika usianya sudah 38 tahun, memiliki istri dan anak, ia mengikuti seleksi PPPK.

’’Alhamdulillah diterima dan mendapatkan SK 2022,’’ jelasnya.

Diluar gaji PPPK, ia juga mendapatkan tunjangan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang Rp 500 ribu per bulan, yang diberikan tiga bulan sekali. (wen/jif/riz)

 

 

Editor : Achmad RW
#lamongan #Terpencil #SD Negeri #Guru #Jombang