’’Seluruhnya menggunakan penunjukan langsung, karena nilainya tidak terlalu besar,’’ kata Senen, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, kemarin.
Rincian 15 proyek itu, rehab ruang kelas SDN Jantiganggong Perak, SDN Dukuharum Megaluh, dan SDN Bawangan 2 Ploso. SDN Bedahlawak Tembelang, SDN Gambiran Mojoagung dan SDN Kromong Ngusikan. Serta SDN Mentaos Gudo dan SDN Sidokaton Kudu.
Juga pembangunan pagar untuk SDN Wonosalam 3. Lalu pembangunan gapura dan pagar SDN Gumulan Kesamben. Pembangunan musala dan kamar mandi SDN Plosogeneng 3 Jombang. Pembangunan musala SDN Mundusewu 1 Bareng. Rehab ruang perpustakaan SDN Brangkal 2 Bandarkedungmulyo. Juga pembangunan kolam renang SDN Bareng 2.
Nilai pekerjaannya tidak sama. Mulai Rp 39,6 juta sampai Rp 162,8 juta. ’’Itu belum dengan jasa perencanaan dan jasa pengawasan. Waktu kontraknya juga tidak sama, disesuaikan dengan tingkat kerusakan,’’ paparnya.
Senen menjelaskan, seluruh rehab yang memakai dana APBD menggunakan penunjukan langsung. Sementara SD yang menerima dana alokasi khusus (DAK) seluruhnya menggunakan tender. ’’Penunjukan langsung karena seluruhnya dibawah Rp 200 juta. Sedangkan yang DAK seluruhnya diatas Rp 200 juta, jadi pakai lelang,’’ tegasnya.
Penunjukan langsung disesuaikan dengan CV yang telah memasukkan company profil ke dinas P dan K. Setelah dinilai layak, dengan melihat portofolio yang pernah dikerjakan, legalitas, dan kelayakan, maka akan dilimpahkan ke bidang SD. Satu CV bisa mengerjakan empat sampai lima pekerjaan sekaligus. (wen/jif/riz)
Editor : Achmad RW